Pantai Ngandong, Maret 2013 1


Pantai Ngandong

Darahku tersirap: pintu belakang new Avanza ada baret yang kelihatan jelas. Tepat di bagian ujung pintu belakang kanan dan sedikit menggores bodi. Badan mobil yang tadinya hitam mengkilat, bersih, elegan, kini jelas tampak ternoda.

Badanku lemas. Sedikit baret seperti ini bisa berarti beberapa ratus ribu di bengkel khusus cat mobil. Dalam waktu yang hanya beberapa detik itu kembali kuingat kira-kira apa yang menyenggol mobil yang kubawa: dari lampu merah sampai sini agak ngebut, jalan bergelombang, ranting di kiri kanan, ada bis besar makan jalan, aku sampai turun di tanah, beberapa mobil pribadi, kijang tua yang nggak mau disalip, truk engkel bak besi…

Aku berdecak. Ck.. Baru dua kali bawa tamu udah ada insiden begini. Terbayang harus ngomong ke juragan kalo aku baretkan mobilnya, lalu uang setoran semua kuberi untuknya, bilang minta maaf ada acara beginian… Sial.

Kudorong pintu minimarket, agak linglung kucari botol minuman ukuran 330ml untuk empat tamu jemputan ku.

“Empat ribu enam ratus,” kata mbak kasir. Minimarket waralaba di tengah tandus Wonosari ujung selatan. Hampir nggak bisa dipercaya.

Kantong plastik kubawa ke mobil dan sekali lagi melihat goresan di pintu. Terbayang dulu Pak Syafri habis 600ribu cuma buat ngecat yang jauh lebih sedikit dari ini. Terbayang pula gajiku bakal nggak cukup buat nanggung. Itu pun nggak bakal kubawa pulang hari ini.

Air mineral kutaruh di kantong samping tiap pintu, kecuali di pintu ku. Dua kutaruh di pintu belakang kiri, buat dua anak tamu ku. Satu di pintu belakang kanan, dan satu lagi di pintu depan kiri. Masih radio Kota Perak saat kuhidupkan mesin mobil lagi.

“Hits terbaik dunia, setiap hari” kata suara rekaman radio. Kupelankan. Volume yang tadinya sudah nyaman di telinga jadi terdengar seperti teriakan-teriakan nggak jelas gara-gara mobil baret. Kuhela napas dalam-dalam sebelum akhirnya perlahan melepas rem kopling, masuk gigi satu dan ¬†menginjak pedal gas. Waktu di jalan berkali-kali roda kemudi kupukul agak keras. Sial. Sial!

Sampai di pantai aku salah parkir. Entah ke mana otakku, tapi lalu sambil tersenyum kupindah mobil ke pinggir pantai satunya, mendekat ke cottage tempat tamuku menginap. Sori pak, batin ku. Pak parkir mesti sudah menghitung paling tidak tiga ribu tambahan saat mobilku merapat tadi.

Tamu ku sudah di meja luar cottage, barang-barang ready buat loading, tinggal nunggu mereka selesaikan pembayaran penginapannya. Hans, anak pertama tamu ku masih seperti dua hari sebelumnya saat kuantar ke sini. Murah senyum, mata biru, kulit cerah dan sandal japit.

How are you doing, Hans?” sapa ku setengah hati padanya. Dia cuma bisa bahasa Swedia. Apa urusanku? Toh cuma berusaha akrab. Sebongkah besar hatiku masih menempel di goresan di pintu belakang. Avanza berumur belum genap setahun, belum kelihatan bekas goresan lain, dan tiba-tiba tergores waktu kubawa..

Singkat kata perjalanan kembali ke apartemennya di sekitar Sanata Dharma berjalan lebih banyak dalam diam, tak seperti aku waktu mengantar mereka ke pantai: banyak omong dan sok akrab. Hampir separuh jalan aku menahan kantuk berat. Beberapa kali mobil agak minggir ke ujung aspal sebelum aku memutuskan untuk berhenti buat cari Nescafe iced coffee di minimarket dekat pasar.

Tamuku memberi segepok duit yang tanpa kuhitung langsung kuterima dan kukantongi. Aku sedikit berharap semoga ada kelebihan satu atau dua lembar dari limapuluhan ini buat tip-ku, buat bantu-bantu ngecat goresan mobilku; duitnya cuma pas seharga sewa mobilnya. Nggak ada tip. Ah, sudahlah. Harapan terlalu tinggi. Nggak semua tamu ngasih tip.

Keluar dari lobby dan di belakang gedung kulirik jam di HP: 5.29pm. Sebentar lagi magrib sedangkan ashar pun belum kujalani.

“Permisi pak,” kataku dari pintu sopir saat mobil sudah benar-benar berhenti. Bapak-bapak di parkiran mendekat.

“Sini mushola-nya di mana ya?” kataku sambil senyum.

“Oh, di sana mas,” katanya sambil menunjuk arah parkir motor di basement. Kulihat arah yang ditunjuknya. Gelap.

“Oh, nggih pak. Makasih”

Dan semoga, batinku, dengan sholat yang sudah terlambat waktu ini bakal bisa paling tidak meluruskan lidahku saat nanti harus menyampaikan berita buruk pada juragan yang punya mobil. Sholat ashar ku sore tadi sangat tendensius: Ya Allah, mudahkan lah hamba-Mu ini dalam menghadapi masalah di dunia dan di akhirat. Mudahkanlah hamba-Mu ini dalam urusan mobil baret.

Aku yang murahan ini akhirnya berdoa yang murahan juga. Ah, sepertinya dosa ku masih menang melawan beberapa recehan yang kubuang di kotak amal kemarin.

Tepat iqomah magrib waktu akhirnya sampai di dekat garasi. Sempat ku pelankan mobil karna ada masjid di dekat situ. Antara sholat sama ngembalikan mobil. Dan mobil yang menang, seperti yang kau duga.

Tiba di garasi, juragan baru saja datang dari masjid, masih pakai sarung dan kemeja koko sama kopiah. Juragan muda yang tak bisa kupanggil pak itu kusalami.

“Assalamu’alaikum,” sapa ku. Tersenyum dipaksa. Harus bilang kalau mobilnya kubaretkan.

“Wa’alaikum salam. Wis teko to?” jawabnya, dan sesaat kemudian dia berjalan ke samping mobil melihat bagian bawah pintu belakang kanan. Tak kujawab sapanya.

“Mas, kui…” kalimat ku terputus. Suaraku pelan hampir seperti orang memohon. “…mbaret..” akhirnya keluar juga. Tangan ku menunjuk sekenanya ke arah pintu.. Duh gusti, ternyata aku masih belum becus nyetir juga…

Ho’oh kui,” kata juragan ku.

Wingi disilih mahasiswa, dibaretke, tapi kono ra ngaku. Aku sempat eyel-eyelan kae ning kono tetep ra ngakoni. “Yowes rasah diperpanjang” aku kondo ngono. Sakjane aku mung butuh pengakuan tok, ngaku nek mbaretke, tapi kono tetep ra ngaku..” imbuhnya.

Nyessss… Hatiku yang tadinya panas seperti tersiram air dingin: sejuk, nyaman, tenang, basah. 100 ribu bayaran ku kuterima utuh, dan sholat magrib ku lumayan khusyuk sore tadi. Tapi aku lupa bilang “Alhamdulillah” setelah sholat. Semoga nggak papa.

————————

Epilog: kubeli roti bakar buat oleh-oleh anak kos, sedikit bagi-bagi rejeki sama yang di rumah

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “Pantai Ngandong, Maret 2013

  • morishige

    saya kalo bawa kendaraan orang suka deg2an. ada aja lecet sedikit, pasti ngerasa bahwa sayalah pelakunya. tapi good thing itu, paling tidak kita punya sedikit rasa tanggungjawab. hahahaha….