Yoakim dan Istrinya 1


e-DSC_8029

Yeah, we do that sometimes” kata istri Yoakim waktu kubilang betapa menyenangkan punya teman buat sharing masalah buku yang pernah kita baca.

Like when he read something about capitalism, he kept talking to me about the topic over and over again that sometimes he’s didn’t know what he talked about,” lanjutnya.

Kubilang “I think it is normal for us to talk over and over about a book we like most or we are reading,” keingat waktu suka-sukanya baca Anak Semua Bangsa sampai ngojok-ojoki (menyarankan) teman buat baca buku itu juga.

Yoakim itu nama si suami, dan aku lupa nama istrinya. Masih kelihatan muda, nggak lebih dari 40 tahun menurut taksiranku. Masih enerjik banget dan asik buat teman ngobrol. Punya anak dua, yang sulung namanya Hans. Adeknya cewek, tapi aku lupa pula namanya. Waktu berangkat dulu kami bercanda soal King Julien dan Mort dan nyanyi theme song-nya di mobil.

Kami dalam perjalanan pulang ke apartemen tempat mereka tinggal; aku yang nyetir. Dengan Inggris yang terbata-bata kucoba ngobrol tentang buku. Untungnya aku pernah baca satu dua novel populer dunia dalam bahasa aslinya, Inggris.

Waktu ditanya apa buku favoritku, kubilang aku lagi suka sama tetralogi-nya Pram, tapi bahasa Inggrisku nggak lancar, jadi waktu berusaha menjelaskan genre buku yang kubaca aku nggak hanya bilang kalo jenisnya novel semi fiksi tentang sejarah Indonesia. Kubilang juga kalau Pram dikenal dengan ideologi Lekra-nya, tapi sepertinya istri Yoakim nggak paham. Inggris ku cuma Inggris kacrut yang nggak jauh sama Inggris pasar Bringharjo.

Tak kusangka ternyata dia juga pernah baca Lord of the Ring yang pernah kubaca juga. Masih ingat kalau dulu kuselesaikan trilogi the Lord of the Ring itu nggak lebih dari seminggu. Dia cerita juga kalau nggak terlalu suka tulisan para penulis negaranya, mungkin karena pengaruh buku-buku sastra yang dia baca dari koleksi ibunya yang mengajar SMA.

namecard

Di antara cerita-cerita itu aku bilang kalau pernah membaca buku judulnya Freaconomics yang membahas peristiwa di lingkungan sehari-hari kita dari segi ekonomi. Yoakim tahu-tahu menimpali:

Speaking of economy, I read 23 Things They Don’t Tell You About Capitalism,” katanya bersemangat.

Sampai di dekat UIN Suka dia mulai bercerita tentang kapitalisme, daya beli orang Amerika dibanding orang-orang di negaranya, apa yang dihasilkan Amerika dan nilai penghasilan itu, sampai istrinya juga menambah topik pembicaraan tentang ketidak adilan sosial ekonomi.

We can come here to Indonesia and we are treated like kings, while people here have to work very hard just to come to Sweden

Kadang-kadang aku nggak paham apa yang Yoakim bilang. Aku tahu istrinya pasti paham. Dan ngomong-ngomong masalah ekonomi aku yakin sudah banyak kita yang tahu garis besarnya: jurang lebar antara miskin dan kaya itu semakin lebar dari hari ke hari. Setidaknya yang kulihat di sini.

Kami sampai di apartemen. Istri Yoakim nawarin buat ikutan dia dan anak-anaknya pergi ke Ngandong lagi jumat minggu depan. Temannya ada yang mau datang ke Jogja dan mereka mau nginap di pantai lagi.

It is nice to invite someone you know,” katanya. Well, aku tersanjung dibilang sebagai orang yang mereka kenal. Ah, aku cuma sopir, batinku.

A friend asked me to accompany her on Thursday. I’ll see if I can make it on Friday,” kataku.

Don’t feel obliged to join her. Only when you are free,” bilang Yoakim memastikan supaya aku nggak merasa terpaksa kalau akhirnya ikut istri dan anak-anaknya ke pantai minggu depan.

Kami tukeran nomor hape. Zero-eight-one-nine.. Dengan terbata-bata kueja nomor ku dalam bahasa Inggris, lalu aku pamit pergi.

Oya, Yoakim sekarang Ph.D associate dan istrinya sudah full Ph.D.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “Yoakim dan Istrinya

  • siliwung

    weh Yoakim kan Joacim to tulisane? hohoho.. kuwi aku le nguruske Letter of Invitation karo visa ne. professor muda dari umea… kok iso ketemune ro kowe piye critane kuwi