Gebyah Uyah


“Tapi intinya begini,” kata mas Yanuar di sela-sela makan tadi malam, “kalau kita sudah memikirkan dunia dan akhirat, implikasinya ke sikap keseharian itu bakal besar sekali.”

Aku mengangguk-angguk sambil mengunyah steak ala Australia di depanku. Mata menatap buncis, brokoli dan wortel merah muda, nggak melihat ke matanya,biar kelihatan lagi mikir.

Lalu mengalirlah cerita tentang petugas penegak hukum ini. Umurnya dua tahun di atasku, istrinya seangkatan sama temanku di UGM. Cerita tentang dimana dia tugas, tempat tinggal, berapa tahun masa kerja, sampai concern-nya terhadap teman-teman kerjanya. Di sela-sela makan malam farewell party kami memilih untuk mojok nggak jauh dari stage tempat band manggung.

“Saya bilang begini sama teman saya, ‘Kalau kalian sekarang ngajak saya beginian artinya saya mundur beberapa tahun yang lalu,'” katanya dengan gaya khas petugas. Terdengar tegas tapi ramah. “Dulu sih saya memang begitu tapi lama-lama mikir juga, apa saya bakal seperti ini terus?” jelasnya. Istrinya terlihat lagi membujuk si kecil untuk makan, di meja sebelah, dan aku masih mengangguk-angguk di depan mas Yanuar.

Bukan cerita dia tentang minuman keras yang kuingat malam itu tapi bagaimana berkomitmen untuk berubah. Bagaimana teman-teman sendiri lah yang akan menguji komitmen itu, mengajak untuk kembali ke dunia lampau meninggalkan kesadaran yang terbangun seiring waktu.

Saat dinner selesai kami bertepuk tangan untuk penyanyi jazz yang meneman santap malam itu. Kusalami mas Yanuar dan tak lupa minta nomer teleponnya, siapa tahu ada kesempatan untuk main ke rumahnya di Bukit Tinggi sana.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *