Merapi 1


100_8695

Walaupun sama-sama berwarna biru, langit di gunung terasa berbeda dengan di laut. Waktu masih tinggal di kaki Merapi di Yogyakarta/Jawa Tengah langit biru beberapa hari itu pertanda bahwa Merapi memanggil lagi buat disambangi. Ya hanya jiwa yang terikat saja yang mendengar panggilan itu dan untungnya saya dan beberapa kawan termasuk di dalamnya. Biasanya kalau cuaca sedang terang dan kamar kos sudah terasa pengap artinya ada panggilan dari utara, dari arah Merapi, dan begitu juga hari itu.

Beberapa teman sudah nagih ditemani naik Merapi jauh dari sebelum hari H yang lalu kita iya-kan buat tanggal 8 Oktober 2012. Saya sama Bujel @mamatbujel mempersiapkan beberapa alat seadanya. Waktu itu kami belum ada dana buat tenda, keril atau sepatu gunung. Tas cadangan yang jarang dipakai pun dipersiapkan, sepatu jogging diambil dari tumpukan-tumpukan sepatu lawas, kaos kaki ngambil dari sepatu lain dan beberapa pakaian seadanya mulai dipacking. Sleeping bag awul-awul ada tapi hanya sebiji. Nesting dan kompor agak lupa detilnya tapi kami baru punya kompor gas tu tahun 2013 awal. Sore itu beriringan dua motor kami menuju Selo, basecamp favorit. Dua orang di depan dua orang di belakang dengan boncenger masing-masing bawa handy talky.

Singkat kata singkat cerita setelah perjalanan 2 jam dari kos ke basecamp kami akhirnya sampai di sana sudah gelap. Setelah packing-packing sebentar sekitar jam 10 malam kami mulai jalan. Sambil ketawa ketiwi, ngeluh jalanan jelek, menikmati efek rokok, buka bekal minum, bentar-bentar istirahat, tau-tau sudah lewat setengah jalan. Lanjut lagi jalan diterangi senter seadanya, jaket udah dilepas karna gerah, ngetawain yang di paling belakang, kadang-kadang sok lari duluan, tiba-tiba sudah di Batu Belah. Nanjak sedikit sampai juga di Pasar Bubrah dengan kondisi masih gelap gulita dan waktu masih menunjukkan jam sekitar jam empat pagi. Sudah kesiangan untuk melihat sunrise tapi masih terlalu dini buat mengusir dingin hawa gunung.

Di balik sebuah batu di halaman Pasar Bubrah kami berhenti untuk menggelar peralatan tidur. Nggak ada tenda nggak ada dome. Saya masih lumayan punya SB merk TNF kualitas super copy alias bajakan, yang lain-lain cuma modal jaket dua lapis sama selimut. Yes, selimut. Kami bawa dari bawah. Bujel malah cuma pake kain jarit buat menutup badan: nggak ngefek kan?

SB masih tembus, bikin nggak bisa tidur. Di antara usaha memejamkan mata terdengar grusak-grusuk pendaki lain yang sudah mulai summit attack. Bujel terlihat kedinginan, agak menggigil, tapi masih bisa tidur. Dua temen lain nggak tahu kemana; sudah nggak konsen ngurus yang lain di tengah gelap fajar dan dingin kelam. Tapi akhirnya saya putuskan bangun saja, daripada hanya diam kedinginan nggak bisa tidur. Handy Talky masih di pinggang, saya cari yg satunya, menyamakan frekwensi, cek ricek sebentar, setelah OK trus pamit bujel mau ke puncak. Sementara itu samar-samar sekali terlihat rombongan yang tadi duluan jalan sudah di punggung lereng menuju puncak Merapi.

100_8688

 

Pelan-pelan sepatu dari Jl. Mataram itu menyalahi kodrat dengan mendaki pasir dan batu di tanjakan terakhir menuju ujung tertingi yang pernah diamatkan kraton kepada Mbah Marijan tersebut. Ditemani sarung melingkar di leher dan kupluk menutup kepala saya memutuskan mendaki di punggung sebelah kanan. Entah berapa kali terpeleset menginjak batuan labil. Kedua tangan membantu pegangan di batu yang kira-kira stabil buat mengayun langkah. Salah perhitungan bisa terpeleset turun bukit.

100_8689

 

Masih belum mencapai puncak saat matahari mulai terlihat di kejauhan, padahal jam belum jauh dari angka lima pagi. Sesekali saya berhenti di batuan besar, memandang ke arah Pasar Bubrah di bawah. Ngeri juga melihat tebing pasir dan batu yang barusan dilewati. Udah gitu nggak terlihat lagi dimana jalan yang tadi dilewati. Nggak terlihat jalan jelas menuju puncak yang saya tuju.

Beberapa kali saya coba panggil Bujel di frekwensi. Belum ada respon. Celana sudah berdebu di sana-sini; sepatu jangan ditanya lagi. Badan nggak terlalu terasa, belum waktunya buat pegal-pegal. Di bawah nggak ada terlihat pendaki lain di jalur saya, rupanya mereka di puncak sebelah yang lebih rendah. Puncak Merapi kan gitu, bentuknya seperti setengah lingkaran dimana ketinggiannya beda-beda. Yang paling umum didaki yang tengah dan sebelah kiri-nya. Saya di sebelah kanan yang lebih tinggi.

Tak lama berselang baru kelihatan satu orang di bawah saya. Belakangan ngobrol sama dia ternyata orang Jerman yang kuliah S2 di UGM mengambil bidang vulkanologi.

100_8675

 

Saya ambil dua video singkat pake handphone, foto-foto narsis di puncak, lalu balik kanan ke Pasar Bubrah. Bujel sudah mulai aktif di frekwensi, dan pelan-pelan dimulailah perjalanan turun kembali ke peradaban. Sebagaimana kita pahami bersama bahwa untuk trek seperti puncak merapi ini jauh lebih mudah naiknya daripada turunnya. Bongkahan batu di sini besar-besar, harus hati-hati jangan sampai terpeleset. Pasir juga bikin pendaki nggak bisa dengan pasti menjejak kaki. Ngesot sudah nggak asing lagi dalam perjalanan turun. Guling-guling di pasir juga biasa.

Di satu posisi saya akhirnya harus calling bujel minta bantuan dicarikan jalur turun. Posisi saya terhalang sama tebing vertikal setinggi nggak lebih dari dua meter tapi nggak mungkin dilewati karna medan batu dan pasir lepas. Beberapa saat setelah posisi saya terlihat dari bawah (sarung saya kibarkan sebagai penanda posisi) akhirnya disarankan melewati jalur di sebelah kanan saya melewati parit kecil. Setelah mencapai jalur landai akhirnya bisa lari turun dengan hampir separo lutut masuk ke pasir.

Nah, di bawah ini beberapa oleh-oleh dari perjalanan kami tersebut.

100_8669

 

100_8671

 

100_8690

 

100_8699

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “Merapi

  • morishige

    Pasar Bubrah – Puncak setelah erupsi 2010 keknya jadi jauh lebih horor dibandingkan sebelumnya. Lebih licin dan lebih tanpa pegangan. Waktu tahun baru kemarin aku sempat terpeleset kehilangan pegangan di salahsatu batu. Untung keinginan bertahan hidup masih tinggi, jadinya selamat. :))

    Tapi sejauh ini Merapi adalah favorit.