Karimunjawa Riwayatmu Kini – Part 1 of 2 6


Picture 138

Sekitar tahun 2007 saya pertama menginjakkan kaki di Karimunjawa, kecamatan kepulauan tak jauh di sebelah utara Jawa yang kini jadi tempat tujuan wisata terkenal. Saat itu seorang teman mengenalkan saya kepada sebut saja namanya Pak Soleh, orang Karimun asli. Karimunjawa, Karimun atau Krimun menurut versi lokal semua mengacu pada kepulauan cantik terdiri dari 27 pulau ini.

Berbekal kardus mi instan yang diisi macam-macam bahan makanan oleh ibu, saya meluncur ke sana. Moda transportasinya pakai KMP Muria, si ferry lambat yang dalam seminggu tiga kali bolak balik Jepara – Karimunjawa. Saya naik ke lantai dua tempat kursi-kursi plastik berbaris mirip ruang tunggu ditata menghadap televisi di tengah ruang yang juga merupakan sekat ke ruang ber-AC di seberangnya. Tentu saja barisan kursi plastik warna biru tersebut adalah kelas Ekonomi dengan tarif termurah.

Picture 069

Tepat jam sembilan pagi klakson kapal berbunyi memberi isyarat kalau siap berangkat. Dari pagar besi di pinggir terlihat air laut di Dermaga Kartini teraduk sampai ke dasar membuat air biru menjadi coklat. Pelan-pelan badan kapal bergerak mundur sebelum akhirnya maju perlahan ke koordinat yang tak saya ketahui tepatnya tetapi mengarah ke Utara sepertinya. Kami melewati Pulau Panjang tak berselang lama. Suara mesin kapal keras mendengung di semua ruang. Angin semilir bertiup dari sisi-sisi kelas Ekonomi yang terbuka. Jika belum pernah duduk 6 jam di KMP Muria, cobalah. Saat itu Anda akan paham kenapa orang-orang Karimun langsung menggelar tikar di lantai bahkan sebelum ferry siap berlayar.

Picture 071

Beberapa saat setelah jam 2 siang siluet sebuah pulau besar nampak di kejauhan. Beberapa pulau di sekitarnya juga mulai nampak. Perahu-perahu nelayan sudah mulai terlihat lagi setelah sempat beberapa jam berlayar tanpa ketemu nelayan. Semakin dekat semakin terlihat kalau tempat yang saya tuju adalah pulau besar dengan bukit yang tinggi menjulang. Belakangan saya tahu bahwa perlu waktu sekitar 2 jam untuk keliling pulau utama Karimunjawa, pakai motor. Sayangnya tidak ada jalur melingkar pulau.

Picture 092

Orang-orang sudah mulai ribut berbenah. Sebagian sudah turun ke lantai dasar yang juga tempat parkir mobil dan motor plus tempat barang. Bawaan sudah dirapikan. Tikar sudah dilipat. Anak-anak digendong sementara orang-orang dari lantai atas juga sudah menuruni tangga menuju lantai dasar.

Picture 133

 

Awak kapal melempar tali dengan pemberat berbentuk botol akua ke awal kapal di dermaga. Rupanya tali kecil itu terhubung dengan tali besar berwarna putih yang kemudian dilingkarkan di dermaga. Petugas lain pelan-pelan menurunkan gerbang depan kapal yang juga sebagai jembatan kendaraan. Petugas darat menempatkan potongan-potongan batang kelapa di ujungnya untuk mensejajarkan permukaan dermaga dengan gerbang besi kapal. Lalu pelan-pelan orang dan motor berjalan keluar menuju daratan. Hiruk pikuk penjemput sudah berbaris menanti sanak kerabat atau tamu yang baru mendaratkan kaki setelah perjalanan panjangnya.

Picture 132

Karimunjawa! Ya. Akhirnya saya menginjakkan kaki di kepulauan yang menurut legenda para backpacker adalah surga wisata air yang masih asri. What will I do? Will I just stay at the house? Atau jalan-jalan keliling pulau pinjam motor Pak Soleh? Di antara kesadaran bahwa ini bukan kunjungan untuk 100% jalan-jalan dan kondisi keuangan yang sangat terbatas akhirnya saya putuskan untuk ngikut arus saja. Lihat nanti gimana, gitu aja.

Pak Soleh ternyata masih terlihat sangat muda. Kulit coklat tanda sering kena matahari, muka bidang, badan berotot khas nelayan, dengan mata yang menunjukkan kejujuran kata. Pertemuan pertama langsung mengesankan dia cukup berpendidikan. Sedikit basa-basi dan dengan motornya kami meluncur ke tempat tinggalnya. Betapa kagetnya saat ternyata rumahnya berada sekitar 20 menit menjauh dari pusat keramaian di alun-alun kecamatan. Bayangan mainan air, cari barengan buat hopping island dan snorkeling-an langsung menjauh. Well, we’ll see, kata saya dalam hati sambil menghibur diri.

Picture 143

Semakin lama ramai wisatawan semakin tak terdengar terganti oleh pohon-pohon jambu monyet dan semak-semak di kanan kiri jalan yang kami lewati. Aspal bekas dari tahun 93 lah yang menghubungkan kecamatan dengan desa-desa di penjuru pulau utama dengan kondisi masih layak dilewati seorang camat. Mungkin termasuk nggak layak kalau ukuran presiden.

Di sebuah bukit saya kembali melihat laut, dan setelah satu turunan itu terletak rumah Pak Soleh. Rumah letter L dengan halaman luas, pohon jambu air di depannya dan mushola bercat putih dengan menara bintang bulan. Di tempat seperti inilah saya menghabiskan lima hari empat malam saya, jauh dari wisatawan, jauh dari bayangan jukung sewaan dan keliling pulau. Bahkan jauh dari bayangan backpacking, karena saya nggak bawa kendaraan sendiri buat jalan-jalan. Juga jauh dari bayangan pondok apung dan berenang dengan hiu.

Saya ‘hanya’ dihadapkan pada pantai hampir tak berombak yang berada 15 meter di belakang rumah, dengan pantai pasir putih di sebelahnya, tak ada turis, ditemani anak-anak setempat yang berjalan telanjang kaki. Dalam kondisi inilah surprises muncul. Surprises yang membuat saya selalu kembali ke tempat Pak Soleh dalam kunjungan-kunjungan berikutnya bahkan saat membawa tamu asing.* (bersambung ke Part 2)

Share

Leave a Reply to oktario21 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 thoughts on “Karimunjawa Riwayatmu Kini – Part 1 of 2