Karimunjawa Riwayatmu Kini – Part 2 of 2 4


 Picture 381

Pak Soleh ternyata orang yang disegani di masyarakat. Di usia yang menurut kelihatannya baru 40an tahun itu dia merupakan imam rutin di mushola depan rumahnya. Khotib Jumat juga. Walaupun bukan yang paling tua, dia dituakan. Nasihat-nasihatnya banyak didengar orang, saran-sarannya akan dipertimbangkan. Malam itu dibawah cahaya lampu neon berkekuatan batre solar cell saya didaulat untuk ngajari anak-anak ngaji di masjid.

Diesel pembangkit listrik sudah dari sebelum magrib bergemuruh di belakang rumah. Daya yang dihasilkan dibagi-bagi untuk beberapa rumah di kanan kiri rumahnya. Jangan dulu berharap listrik dari negara karena pemerintah kita belum cukup kaya untuk memasang instalasi sampai ke tempat Pak Soleh. Ada TV di rumah tetangga, dan di sana orang-orang berkumpul melihat siaran entah itu sinetron entah iklan sosis yang muncul di mana-mana. Mirip seperti waktu saya kecil dulu nonton White Snake Legend dan Yoko/Bibi Lung di tempat tetangga. Atau waktu nonton Super One dan Tangan Emas-nya di rumah teman.

Kami ngobrol banyak malam itu. Pak Soleh cerita tentang Kalender Jawa, hari baik hari buruk, cara menghitungnya, tentang orang-orang di desanya, tentang latar belakang hidupnya, tentang tanah-tanah luas yang belum tergarap. Saya menyambung di bagian terakhir itu saja dengan keinginan untuk bikin semacam biro perjalanan untuk bawa tamu ke Karimunjawa, suatu harapan yang sempat terwujud dan masih saya simpan juga sampai sekarang.

Diskusi kami terputus pada jam 10 malam saat genset harus dimatikan untuk menghemat listrik. Lampu minyak dihidupkan sebagai penggantinya, dan suara sapuan ombak di belakang rumah mengantar malam di hari pertama.

Picture 168

**

Paginya Pak Soleh bertanya saya mau ngapain hari itu. Saya bilang, nggak ngapa-ngapain. Ngikut aja ada kegiatan apa di sini. Akhirnya kami menuju ke perahu di belakang rumah dan meluncur menuju ke tempat ‘penanaman’ rumput lautnya. Hari itu waktunya ‘menanami’ lahan yang baru ‘dibuka’nya belum lama ini. Usut punya usut ternyata budidaya rumput laut ini banyak dijadikan pekerjaan sampingan oleh nelayan. Lokasi mereka yang terlindung dari ombak besar membuat rumput laut bisa tumbuh dengan baik.

Kami meluncur di perairan dangkal dimana jernihnya air membuat koral-koral di bawah terlihat dengan jelas. Mungkin hanya sekitar 5 meteran. Hampir tak ada ombak kala itu. Laut terasa seperti kolam ikan saja. Sesekali dasar laut tak terlihat lagi saat perahu melintas di bagian laut dalam. Kalau pernah melihat foto-foto koral yang diambil dengan kamera di setengah permukaan air, kurang lebih seperti itulah indahnya pemandangan menuju sawah rumput laut Pak Soleh. Sementara beliau mengemudi di belakang, rasa-rasanya saya pengen loncat ke laut saja berenang di beningnya air.

Rumput laut ‘ditanam’ dengan cara ditalikan ke tali platik panjang membentang beberapa puluh meter dari titik A ke B. Tali ini mengapung di permukaan air dengan bantuan botol-botol akua kosong yang ditambatkan setiap beberapa meter. Intinya agar rumput tetap berada sedekat mungkin dengan permukaan. Tiap petak sawah terdiri dari beberapa len yang ujungnya disatukan dengan jangkar yang ditalikan di karang dengan kedalaman variatif. Sekitar karang di kedalaman 10 meter lah. Tidak ada peralatan selam lengkap untuk memasang. Tinggal bawa tali, ujung satu diberi pelampung, ujung satu dibawa menyelam ke karang yang dimaksud, lalu ditalikan. Kalau dalam sekali menyelam masih belum sempurna ikatannya, proses ini diulang sampai beres benar. Sekali lagi tanpa alat macam-macam, hanya kacamata renang saja. Pun hanya kacamata renang yang talinya sudah diganti dengan karet hitam ban dalam.

Picture 289

Pasir putih Pantai Tanjung Gelam terlihat dari jukung yang kami naiki. Pantai yang selalu jadi persinggahan turis manapun yang sedang hoping island di sini. Tadi kami sempat berganti ke jukung manual untuk memudahkan pergerakan. Pak Soleh bawa jukung sendiri, saya bawa sendiri. Kami mengambil bibit dari len yang rumputnya sudah terlalu subur dan memindahkannya ke len baru. Di antara riak ombak kami sejajarkan jukung dengan tali len lalu mulai satu per satu menambatkan sulur-sulur rumput laut hijau tua itu ke tali plastik, mengikatnya dengan kuat agar tak terbawa alunan ombak. Nostalgia seperti panen cabai di kampung dulu. Beberapa orang di tengah petak sawah, perhatian hanya ke tanaman dahan cabai yang akan dipetik. Hijau pepohonan di sekitar dan kicau burung di kanan kiri seperti memang sudah seharusnya di tempatnya. Tak terapresiasi. Taken for granted. Saat petani memanen di sawah, saat nelayan menanam rumput laut di perairan Karimunjawa, saat itu orang-orang kota ramai-ramai booking tiket, booking hotel, transportasi, sewa alat, hanya untuk melakukan yang para petani tiap hari lakukan: melihat hijau-hijauan gunung, mengalami naik perahu dan berendam air laut seharian penuh.

Beberapa saat setelah jam 1 siang kami minggir ke darat, menyeret jukung ke daratan. Tempat kami mendaratkan jukung berdampingan dengan Tanjung Gelam. Dari sana kami berjalan pulang melewati jalan tanah liat di tengah gerumbul perdu bakau dan hutan. Benar-benar hutan. Belum ada yang menggarap tanah tersebut. Tak ada akses ke sana. Di lain hari saya diingatkan untuk hati-hati kalau jalan di jalur itu karena ular belang beracun masih sering sekali terlihat.

Saya akhirnya ketiduran siang itu, tidak kembali lagi ke laut. Bangun sudah cukup sore untuk sholat Ashar. Ditemani beberapa anak TPA kami berjalan-jalan di pantai sebelah rumah. Saya ambil kantong plastik besar yang terdampar di pasir dan mulai memunguti plastik-plastik lain yang satu dua terlihat. Anak-anak itu dengan senang ikut membantu. Kebiasaan memungut plastik ini berlanjut sampai kunjungan terakhir saya ke sana bulan Juni 2012 lalu. Saat itu saya dan rombongan teman dari Swedia ‘berhasil’ mengumpulkan satu karung/bagor sampah plastik di salah satu gosong. Kebanyakannya adalah bungkus makanan, sebagian lainnya adalah sandal bekas.

CI 1

Pak Soleh bercerita kalau bukan seratus persen salah mereka sebagai orang lokal dengan adanya plastik-plastik tersebut. Memang kesadaran sampah ini belum begitu baik, tapi sering kali plastik mendarat karena terbawa ombak dari laut. Wisatawan, nelayan, bahkan yatch mahal yang sering berseliweran di sana pun tak lepas dari kontribusi buang sampah di laut ini, tambahnya. Saya coba kasih sedikit pengertian kepada anak-anak TPA tentang sampah plastik dan bahayanya. Semoga suatu saat mereka ingat apa yang saya bilang.

Hari-hari berikutnya saya ikut kegiatan keseharian Pak Soleh saja. Kadang ikut miyang cari ikan teri, berangkat habis isya, pulang subuh, kadang pasang jaring untuk cari lauk makan malam, menanam rumput laut, memanennya, bakar ikan, spearfishing, dan tentu saja ngajar TPA sehabis magrib. Sudah nggak kepikiran lagi untuk sekedar hoping island. Sudah nggak pingin lagi ikut paket-paket wisata, karna kalau apa yang saya lakukan ikut dipaketkan oleh agen perjalanan harganya sudah jutaan rupiah sendiri.

Hari terakhir di sana pun tiba. Setelah pamitan dengan istrinya, dengan Anis anaknya yang masih SD, dengan anak laki-lakinya yang masih SMP yang menemani spearfishing, saya diantar Pak Soleh kembali ke dermaga. Saya diwanti-wanti, dipesan-pesan, nggak usah bawa kardus gitu lagi kalau cuma mau silaturahmi ke tempatnya. Asal mau makan dan tidur seadanya, datanglah kapan saja.

Jam delapan pagi KMP Muria kembali bertolak ke Jepara. Saya tinggalkan Karimunjawa sementara waktu untuk kembali membaca buku di seberang pulau.

IMG-20130410-00351

Juni 2012.

Teman dari Swedia (suami, istri, dua anak, plus seorang cewek) senang sekali tinggal di tempat Pak Soleh. Jalan ke Tanjung Gelam sudah dicor semen kualitas bagus hasil dana PNPM. Mereka tiap pagi berjalan kaki ke Tanjung Gelam dan seharian main air dan main kartu remi. Jalan aspal dari dermaga ke tempat Pak Soleh sudah semakin rusak. Istri Pak Soleh sempat jatuh di tanjakan depan rumah karena jalan yang terlalu buruk. Truk-truk pengangkut bahan bangunan semakin banyak berseliweran seiring banyaknya orang kaya yang membangun istana di pulau tersebut. Tanah yang dulu hanya gerumbul-gerumbul kini sudah menjadi hotel. Listrik dari pemerintah sudah mencapai Desa. Genset yang dulu di belakang rumah sudah tak ada lagi. Tanjung Gelam sudah dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang menjual makanan dan minuman, dan Karimunjawa masih belum memiliki instalasi pengolah sampah dari negara. Sampah yang menumpuk hanya dikumpulkan lalu dibakar. Orang-orang setempat mau ta mau membeli semua kebutuhannya dari Jepara. Dan agen-agen perjalanan semakin gencar menjual paket wisata ke sana, mem-book puluhan seat kapal cepat yang sepertinya sudah jadi milik mereka saja.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 thoughts on “Karimunjawa Riwayatmu Kini – Part 2 of 2

  • morishige

    nicely written!

    sebenarnya kalo orang-orang menganggap lokasi tujuan wisata sebagai kampung sendiri, kediaman nenek sendiri, mereka akan sungkan untuk buang sampah sembarangan. juga sungkan untuk berlaku tak sopan pada penduduk setempat. masalahnya, kebanyakan yang saya lihat para turis memposisikan diri sebagai manusia-manusia yang lebih, yang harus dihormati meskipun mereka berlaku seenaknya di sana.

    • mosoklali Post author

      Harus ditemukan satu istilah untuk wisata macam ini. Bukan ‘responsible travelling’ karna dia lebih ke ‘jangan buang sampah sembarangan; leave no trace’, sedangkan gaya jalan-jalan yang perlu dicarikan istilah ini adalah jalan-jalan yang nggak buru-buru, mendekat ke orang lokal dan meng-orang-kan mereka, kula nuwun (permisi ke orlok), bertukar cerita dan berbagai kegiatan manusiawi lainnya.

      Punya istilah untuk ini?