Bali Amazing – Wonderful Indonesia 2


D2T_7028-Edit

Siapkan cangkir kopimu, tuang sedikit demi sedikit dan seruputlah pelan-pelan. Duduklah pula dengan nyaman karena hari masih panjang. Akan kuceritakan kisah sebuah pulau yang tersohor di manca negara sana, pulau dimana para dewa bersemayam bersanding dengan manusia menciptakan suasana relijius yang tak kau temui di pulau lain. Aku sendiri beruntung terdampar di sana beberapa lama, hidup dan berkawan dengan orang-orang yang setiap pagi membawa bebanten dan menyalakan dupa memuja di pura kecil di depan tempat tinggalku.

Ya, ini adalah cerita tentang Pulau Bali. Pantai Sanur, Kuta, Ubud, Danau Kintamani, Pura Besakih, kau pernah mendengarnya bukan? Kukatakan dari awal saja, semua cerita indah yang kau dengan tentang Pulau Dewata semuanya benar. Di sini manusia dan alam sekitar menyatu dalam satu dunia. Di sini orang menghormati pepohonan, binatang, laut dan tentu manusia sesamanya karena sadar bahwa mereka semua mahluk yang hidup berdampingan layaknya sepasang kekasih. Mereka semua terikat dalam hukum sebab akibat yang mungkin mulai terdengar asing di telinga. Kemarilah, akan kutunjukkan bagaimana burung derkuku mencari biji-bijian di putihnya pasir pantai, berjemur bersama manusia yang ingin menikmati matahari, hidup berdampingan dengan manusia seperti orang-orang Inggris dan burung merpati di Trafalgar Square sana.

Atau diamlah sejenak saja, saat matahari mulai meninggi seperti ini beberapa tupai akan lewat di kabel listrik depan itu, acuh saja terhadap orang-orang yang menunggu giliran lampu di pinggir jalan menyala hijau. Di pohon cemara itu, kalau kau mau sedikit bersabar, nanti sore induk derkuku akan pulang untuk menghabiskan malamnya. Tadi kulihat dia membawa ranting-ranting kecil untuk membangun sarang. Mungkin tak lama lagi derkuku jantan akan menjadi ayah bagi anak-anaknya yang beruntung tumbuh di antara orang-orang arif dan mau berbagi pohon dengan mereka.

Inilah Bali, Pulau Dewata, pada waktu lalu jauh lebih dikenal dari Indonesia sendiri. Di sini sinar matahari melimpah ruah memastikan setiap orang bisa menghabiskan seharian penuh di luar sana, di pantai, di kedalaman laut, di punggung gunung dan tepi danau. Kalau kau menginap di Kuta atau Seminyak maka kau orang beruntung. Tak jauh dari tempatmu ada hamparan pantai dengan pasir putih lembut yang siap menyambut kain pantai alasmu berbaring. Datanglah pagi-pagi sebelum banyak orang datang, bawa buku dan kacamata gelap untuk nanti siang saat matahari sudah meninggi. Atau bawa ranselmu, letakkan di ujung kain dan pakai sebagai bantal. Dengarkan ombak yang datang silih berganti. Biarkan semilir angin menyibak rambut kusutmu. Akan ada waktunya untuk keramas tapi tidak sekarang. Jangan pedulikan burung-burung yang hilir mudik di dekatmu. Kau ingin membaca kan? Mungkin cerita klasik Yunani atau kisah cinta remaja? Aku juga bisa lupa waktu kalau sudah berbaring di atas pasir seperti kau, apalagi saat buku yang kau bawa tak kalah indahnya sama bentang alam di hadapanmu.

D2T_7039-Edit

Jika matahari sudah mulai meninggi dan kau sudah mulai lapar, bangun lalu menyeberanglah menyusur jalan aspal sepanjang pantai itu. Kau bisa mampir di salah satunya dan duduk makan dengan santai. Kau sedang liburan, tak perlu terburu-buru untuk apapun lainnya. Carilah yang menyediakan lounge di lantai atas supaya kau kembali bisa melihat laut dan orang-orang yang berselancar di antara ombaknya. Nikmati makanmu sambil melihat atraksi mereka. Orang-orang menari di sisi ombak dan sesekali mencoba melompat melewatinya, berputar, lalu kembali meluncur. Kau juga bisa melakukannya. Jika ombak di sini masih kurang menantang untukmu, kita akan bergerak ke selatan menuju Pantai Padang-Padang bersama-sama dengan manusia-manusia manca negara yang sudah lebih dulu ke sana dari pagi tadi. Hanya setengah jam dari tempatmu makan.

Tapi tidak harus hari ini untuk berselancar. Masih ada waktu untuk itu, dan Padang-Padang tidak akan kemana. Masih banyak yang bisa dilakukan di Kuta dan sekitarnya. Berjalanlah sedikit ke utara menuju Beachwalk setelah kau selesai makan. Perhatikan langkahmu, semoga tidak menginjak banten berlambar anyaman janur kuning dan dupa yang diletakkan orang di depan toko mereka. Naiklah ke lantai duanya, ada bioskop di sana. Kau bisa habiskan siang ini dengan pertunjukan-pertunjukan Holywood yang mereka bawa kemari. Tapi perhatikan jamnya, karena kau sudah harus keluar dari sana sebelum matahari tenggelam mendekati jam enam sore.

Kuta3

Sudah tahukan kamu bagaimana matahari tenggelam di cakrawala Pantai Kuta? Ratusan orang berdiri dan duduk di pasir putih itu menunggu matahari jingga pelan-pelan mewarnai langit dengan warna oranye sejauh mata memandang setiap harinya. Keluarkan juga kameramu, jangan mau kalah. Minta tolong seseorang untuk mengambilkan fotomu. Bagikan dengan kawan-kawanmu lalu buat mereka iri. Pemandangan seperti ini tak kau temui setiap hari. Kota mu sudah terlalu sesak dengan gedung tinggi dan kendaraan lalu lalang.

Jangan dulu lelah saat malam tiba dan lampu-lampu dinyalakan. Masih ada obrolan-obrolan di antara isapan sheesha dan secangkir cappucino. Kau masih harus meracuni banyak orang dengan foto-foto hari ini bukan? Duduklah santai. Pesan sheesha-nya. Cappucino rose. Percayalah, itu kata kunci yang dikenal di antara orang-orang tertentu untuk mengeluarkan sheesha andalan mereka. Jangan biarkan mereka membodohimu dengan berbagai rayuan. Pilihlah itu, mungkin dengan latte untuk minumnya, dan jangan pulang sebelum malam mendekati tengahnya.

Saat negri tengah Indonesia ini memasuki pertengahan malamnya bolehlah kembali ke peraduan. Kau masih harus berbagi tenaga untuk perjalanan esok hari. Tetapi jangan sebelum tengah malam, jangan buru-buru karena ini Bali, dan tak ada yang terburu-buru di sini. Kau, mereka, kita semuanya sedang berlibur.

***

Amet 01, BALI, PHOTO BY EFENDY BONG

Pernahkah kau dengar kisan tentang Tulamben yang terletak di sebelah timur? Para penyelam kelas dunia sudah sering mendengarnya dan akan kuceritakan juga untukmu.

Setelah selesai menyusur by pass Prof. IB Mantra kau akan menyusur sisi timur Bali melewati jalanan berliku di Karangasem. Turis-turis asing duduk di dalam mobil putih lalu lalang di sana menuju ke Pelabuhan Padang Bai lalu menyeberang ke Lombok. Akan kuceritakan lain waktu tentang Padang Bai tapi kita lanjutkan dulu berkelok naik turun ke utara melewati punggung Gunung Agung dan lahar yang sudah membatu. Saat melihat gerbang selamat datang dengan ukiran penyelam, saat itulah kau sudah memasuki Tulamben.

Jauh-jauh orang datang ke sini untuk menyelam. Kau masih ingat Ian dan Karina dari Jerman? Atau Susan dan Belinda dari Australia? Kotamu jadi terasa begitu dekat dibanding jarak yang sudah mereka tempuh untuk menuju ke sini. Saat sopir sudah berbelok ke kanan menuju Hotel Paradise kau sudah bisa melihat laut biru membentang di depan. Aneh sekali saat pertama melihatnya, seperti tidak ada apa-apa di sana. Pantai dipenuhi dengan batu-batu hitam elips sebesar kepalan tangan, ada pohon besar memayung di pinggirnya, restoran yang ramai dengan orang bertelanjang dada dan separuh wetsuit menggantung di belakang, atau paling-paling sekelompok orang berenang tak jauh dari bibir pantai. Jangan terkecoh. Pemandangan sebenarnya ada di bawah air.

Persiapkan alat-alatmu. Porter sudah membawanya sampai di halaman restoran. Aku lebih suka memakai wetsuit lima mili tapi second skin sebenarnya sudah cukup. Dengarkan pemandumu menjelaskan cara entry, kondisi pantai, arah penyelaman sampai kode-kode untuk memantau udara di tabung. Pasang BCD ke tabung dan mulai rakit regulatornya. Buka katub dan cek tekanannya. Jika beruntung kau bisa menyelam sampai 50 menit dengan 200 bar walaupun itu belum cukup untuk melihat semuanya. Setelah buddy check dan sinyal go sudah diberikan, pelan-pelan berjalanlah ke arah laut menuju indahnya pengalaman bawah air yang tak akan kau lupakan.

?????????????

Di dasar pantai Tulamben berserakan puing-puing kapal kargo Amerika yang rusak terkena torpedo lebih dari tujuh puluh tahun lalu. Sekarang koral dan empat ratusan ikan karang tinggal di sana berbagi tempat di antara 120 meter panjang kapal. Garden Eel bergoyang seperti menari menyambut rombonganmu, lalu saat mereka bersembunyi karna kau mendekat muncullah sweeltips, parrotfish, dan sergeantmajor. Jangan dulu habiskan bateremu untuk mengambi gambar damselfish yang lalu lalang tanpa henti. Bisa-bisa kameramu penuh sebelum kau mencapai Liberty. Grouper, cornetfish dan trumpetfish juga lalu lalang mencari makan. Atau mereka hanya sedang main kejar-kejaran?

Kalau kau beruntung kau juga bisa bertemu dengan barakuda sepanjang satu setengah meter yang rutin patroli di sekitar kapal. Atau jika amal baikmu melimpah ruah tumpah-tumpah tak tertampung lagi mungkin kau bisa bertemu dengan mola-mola (sunfish) yang jadi incaran penyelam-penyelam dunia. Belum tentu satu dari seratus penyelam menemui mola-mola di sini tapi bisa saja dia sengaja menunggumu datang sebelum naik ke permukaan untuk ritual bersih diri.

???????????????????????????????

Tangan kananmu masih memegang pergelangan tangan kiri saat guide beberapa kali menunjuk nudies di karang. Nafasmu pelang dan teratur seperti inilah dive terakhir di Tulamben. Jadi masih tersisa berapa bar udara menurut pressure gauge-mu? Tahu-tahu pemandu sudah membawa rombongan ke kedalaman lima meter untuk safety stop dan tak lama kemudian kau sudah berada di depan resto lagi semangat bercerita tentang binatang-binatang yang kau temui di bawah sana. 50 menit berlalu dengan cepat saat makan siangmu tersaji. Lalu ketika turun untuk kedua kalinya kau tahu pasti bahwa seharusnya kau bawa empat atau lima baterai cadangan untuk kamera bawah airmu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ah, Tulamben. Bahkan para fotografer dunia pun masih menemukan hal-hal baru setelah puluhan kali menyelam di sana.

***

Jadi sudah berapa tempat yang kuceritakan? Dua? Tiga? Belum kuceritakan tentang Benoa, Uluwatu dan kecaknya, Ubud beserta monyet dan asrinya desa, tentang mendaki Gunung Agung yang keramat, makanan dan penduduknya. Datang sajalah kemari, kan kuceritakan lebih banyak lagi. Kakiku seperti sudah ingin melangkah mengitari Bali menghirup wangi dupa di antara orang-orang berdoa.

Jangan kau tak datang. Kopi-ku masih kusiapkan untukmu. Dan kutunggu kau benar-benar, di sini, di pulau para dewa, di Bali.

 

Disclaimer:
Images are courtesy of www.indonesia.travelBaliDiving and my personal collection. Among the sources are indonesia.travel and Diving Indonesia book by Kal Muller.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Bali Amazing – Wonderful Indonesia