Mendaki Sumbing 2


tangguh 1

 Syahdan pada jaman Belanda belum lama meninggalkan tanah air, gunung-gunung di seputaran Yogyakarta seperti Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing merupakan rangkaian gunung yang wajib jadi kunjungan sebulan sekali. Kalau tidak kuat semuanya ya minimal satu saja sebagai bentuk penghayatan dan pengamalan Pancasila terutama sila ke 3 yang dijelaskan dalam pasal empat ayat satu UUD ’45.

Tradisi ini turun temurun sejak Pangeran Diponegoro menggalakkan gerilya menyusur punggung-punggung bukit memimpin perjuangan sebelum kemerdekaan. Kalau sekarang sih beda. Orang bisa bawa daypack atau backpack sesuai kebutuhan, bawa bekal, bawa HT, juga bawa bule untuk bersama-sama diajak merasakan dingin gunung. Makan juga tinggal buka bekal atau beli di penjaja yang di tempat tertentu ada di puncak gunung sana.

Tapi pengamalan dan penghayatan dari lubuk terdalam ini juga tak lepas dari pematangan PHB alias Pemuda Harapan Bangsa agar ke depannya kelak mampu menghadapi berbagai hal baik riil maupun virtual dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada gading yang tak retak bukan? Makanya dengan bekal taqwa dan tawadhuk akhirnya diputuskan Gunung Sindoro yang akan jadi sasaran napak tilas berikutnya. Semoga dulu Pangeran Diponegoro beserta ajudannya pernah lewat jalur Kledung sehingga yang kami lakukan mendapat ampunan dari Yang Maha Kuasa.

Belum jauh dari basecamp tiba-tiba muncul dinding tanah kemiringan lebih dari 60 derajat yang perlu dilewati tanpa boleh mengeluh sedikitpun. Rupanya rintangan pertama langsung menguji begitu kaki meninggalkan lingkaran utama tanah desa. Dengan senyum sinis tak terperi terlewatilah aral di muka. Pakaian kami masih utuh untungnya, belum compang camping atau carut marut dilanda rerumputan yang seolah mencoba mencabik apapun yang kami pakai.

Lalu terlihat lagi tebing tanah, jejak jejak kasar menyibak ilalang, suara-suara yang tak jelas dari mana sumbernya, seperti raungan perut lapar ditambah auman serigala, tapi kami maju tak gentar karena yang benar selalu menang. Pantang mundur, karena yang menyerah itulah yang kalah.

Kemudian saat matahari mulai meninggi kami persilahkan resimen lain untuk maju lebih dulu. Kami keluarkan alat perekam gambar, jeprat jepret sana sini memastikan tak ada yang terlewati, dan balik kanan kembali ke markas besar di wilayah Ngarsa Dalem. Misi kali itu mungkin tak sampai ujung bukit, tapi kami berhasil mendokumentasikan sejarah yang akan selalu tercatat di server Google.

Rupanya takdirlah yang menuntun kami kembali, karena tak lama setelah sampai di markas besar terdengar kabar bahwa Negara Api menyerang…

***

IMG_0824

Siliwung, Oct 2013

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Mendaki Sumbing