Yogyakarta – Kawah Candradimuka


Yogya di waktu malam

Sudah saatnya kota Yogyakarta kita masukkan dalam topik bahasan. Daerah yang diistimewakan oleh Republik Indonesia ini menyimpan banyak sekali potensi untuk melejitkan individu dari yang tadinya dreamer menjadi top player. Dibalik senyumnya orang Jogja, mitologi pantai selatan, gemerlap tradisionalisme kraton, berbagai pasar rakyat serta ancaman lahar Gunung Merapi Jogja merupakan sebuah belanga besar yang menggodok siapapun di dalamnya. Dari yang tadinya kurowi alias boondocks atau pun ndeso berubah jadi mahluk digital yang disentuh saja susahnya mintak ampun. Dari yang tadinya cuma tahu telepon umum koin jadi lanyah menggunakan handphone full layar nggak ada keypadnya. Dari yang tadinya heran lihat orang bisa jadi kaya menjadi orang kaya beneran. Jangan anggap remeh kekuatan bernama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Universitas

Siapa tak kenal Universitas Gadjah Mada? Bersama puluhan lainnya di kota tersebut universitas berfungsi sebagai mixer, pencampur. Mencampurkan berbagai bahan dalam satu wadah. Anak desa, orang kota, penduduk jawa, penduduk sumatra, kalimantan, lainnya, cowok, cewek, transgender, pinter, rata-rata, bodoh, tinggi, pendek, gemuk, kurus, doyan pedas, suka manis, alim, hobi party, rajin kuliah, anak bolang semuanya digesekkan, diputar-putar sampai pusing, digencet tumpang tindih, didekat-dekatkan sehingga mau tidak mau satu sama lain harus saling kenal. Satu sama lain jadi saling tahu pribadi masing-masing dan saling terkena bau orang lain.

Berbagai wadah lebih kecilnya mencampur orang-orang ini dalam proporsi yang lebih mirip. Mahasiswa yang suka fotografi, punya wadah sendiri. Suka pingpong, punya sendiri. Suka tari jawa, ada. Suka naik gunung, suka debat, suka renang, drumb band dan suka lainnya mereka pelan-pelan menyisihkan diri mengelompok secara otomatis. Bahkan orang-orang yang tak suka berkelompok pun memiliki wadah tersendiri. Semua ini terjadi masih di dalam perputaran dunia universitas.

Angkringan, Warung Kopi, Lesehan, Burjo

Tadinya cuma mau ditulis tiga yang pertama tapi sekarang burjo yang katanya dari kota sebelah itu juga sudah jadi bagian dari Yogyakarta.

Di angkringan dengan nasi kucing, gorengan, sate usus atau kopi jos itu obrolan bisa mengalir dari isyak sampai adzan subuh. Dari yang tadinya curhat masalah nggak punya cewek bisa melebar sampai konspirasi titip absen mata kuliah esok harinya dilanjutkan dengan main remi yang catatannya adalah lanjutan dari minggu kemarin. Itu semua terjadi di angkringan.

Warung kopi di sepanjang selokan itu lebih dahsyat lagi obrolannya. Para maha pelajar ke sana membawa laptop atau handphone tingkat tinggi sekaligus ngenet. Kalau sudah melibatkan dunia maya dunia ini seolah kecil sekali. Seenaknya saja bisa komentar soal gol bunuh diri pemain klub papan atas, politik, game online. Tak sedikit ide bisnis keluar dan bermula dari warung kopi juga. Dengan tiga ribuan untuk jenis kopi Lampung atau Aceh mereka bebas duduk duduk sepuasnya.

Lesehan lain lagi gayanya. Lesehan ini membentuk para pemuda dari sisi finansial, lebih tepatnya pengaturan keuangan karena walaupun namanya lesehan tapi harganya variatif dari murahan enam tujuh ribuan sampai belasan ribu. Buat yang sudah lama di Jogja harga di atas 10 ribu sudah masuk kategori mahal, atau kalau RPM motor itu masuk di wilayah merah. Lesehan ini yang membentuk mereka bisa memilah dan memilih mana yang enak, dekat, banyak isinya dan murah.

Kalau burjo ini fungsinya sebagai lembaga bahasa Sunda mandiri atau LBSM. Beberapa kode dengan bahasa tersebut maka pembayaran makanan bisa diatur di belakang. Ngebon, istilah tenarnya. Kalau si aa’, si penjaga burjo, lagi mood bagus tak jarang es teh dan beberapa gorengan bisa ditukar dengan informasi settingan BB mereka. Oh, satu fungsinya lagi adalah lembaga negosiasi mahasiswa atau LNM karena tak jarang burjo mau jadi sponsor acara mahasiswa (tapi lihat-lihat ukuran warung burjonya ya).

p

Landmark

Aduh, sakit perut.. stop dulu ya. Nanti dilanjut lagi nulisnya…

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *