Wonderful Indonesia – Menangkap Matahari Terbit di Gunung Bromo


http://www.malangkab.go.id/imgnews/bts1.jpg

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari Malangkab go id

Awan putih menyapu di bawah bukit, sebuah puncak gunung berdiri menghijau di antaranya, kawah aktif menyembur asap dan gunung lebih tinggi menjulang di latar belakang. Versi gambar yang lain mungkin menampakkan jejak semburan awan yang tersapu angin jauh ke sisi bingkai dan satu atau dua lampu berwarna oranye menggaris di antara lautan awan di bawah sana. Seperti apapun versinya orang akan cepat tahu bahwa itu foto Gunung Bromo juga. Foto-foto seperti ini diambil dari Gunung Penanjakan yang berada di ketinggian 2,700 mdpl.

Saya langsung jatuh cinta dengan Bromo sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana beberapa tahun lalu. Suasana alam pedesaan, akses wisata sudah bagus, pemandu wisata berbahasa asing, warung-warung menyediakan kopi panas, kuda serta para penunggangnya, lansekap menawan  saat sunrise dan lain sebagainya. Seperti berada di puncak Merapi tapi fasilitasnya lengkap.

Berburu sunrise di Bromo sensasinya tak kalah dengan mendaki gunung betulan lho. Kita harus bangun pagi sekali, packing, siap-siap bekal untuk di jalan, pakai jaket tebal, mengarungi lautan pasir, lalu menanjak curam berkelok-kelok saat mulai mendaki Penanjakan. Bedanya dengan mendaki gunung biasa, selain di sarana transportasi yang sudah tersedia dari hotel sampai viewpoint, adalah adanya acara berdesakan dengan pengunjung lain untuk mencari spot terbaik supaya foto sunrise-nya bisa sempurna. Jangan salah, di saat musim kunjungan wisata Gunung Penanjakan tak ubahnya seperti pasar pagi dimana orang berkerumun di satu titik bak penjual dan pembeli. Wisman dan domestik sama saja, mereka membaur lalu melihat-lihat dan mencari spot mereka sendiri-sendiri. Saking inginnya mendapat foto terbaik tak sedikit orang yang sampai keluar pagar beton pembatasnya, duduk di rumput yang masih basah kena embun.

Ketika fajar mulai merekah orang-orang pada ribut mengambil foto, senggol kanan kiri kalau dirasa terhalang atau semacamnya. Tangan-tangan teracung ke atas mengarahkan lensa ke arah sang fajar. Lalu setelah hiruk pikuk itu semua orang setengah berteriak “WAAAAA…” dan bertepuk tangan bersama-sama. Selebrasi pagi khas pengunjung Bromo untuk menyambut matahari terbit.

Foto-foto dilanjut dengan obyek utama kaldera Gunung Bromo dengan latar Gunung Semeru tak jauh di belakangnya.

Meskipun Gunung Bromo tidak kemana dan perjalanan ke sana bisa ditempuh dengan mobil travel sekali jalan tapi alangkah baiknya memperhatikan hal-hal berikut agar setiap kunjungan ke sana bisa maksimal:

  • Pesan hotel sebelum datang, apalagi jika ke sana pada musim-musim ramai. Jangan sampai kehabisan kamar. Referensinya bisa dicari seperti di situs resmi Kabupaten Probolinggo ini.
  • Selain yang sesuai dengan dana, pilih hotel yang berada di Cemorolawang. Akses menuju ke pemandangan lautan pasir jauh lebih dekat daripada hotel di Ngadisari.
  • Segera pesan Jeep setibanya di sana. Hotel tempat Anda menginap bisa mencarikan kok. Atau jika berada di dekat poskonya bisa juga langsung ke posko.
  • Istirahatlah lebih awal, karena jam 3 pagi sebaiknya Anda sudah mulai bergerak ke Penanjakan. Jeep selalu siap mengantar kapanpun Anda mau.
  • Bawa baju hangat yang cukup. Suhu di sana berkisar antara 3-18 derajat Celcius yang untuk ukuran wisman pun masih tergolong dingin.
  • Bawa tas punggung. Daypack akan berguna sekali untuk membawa bekal makanan dan minuman serta menaruh jaket saat matahari sudah meninggi.
  • Bawa lensa wide jika ada. Baik saat menangkap momen sunrise di Penanjakan maupun ketika berada di depan Pura Poten sebelum naik ke bibir kawah Bromo lensa ini akan membantu sekali untuk menangkap lebih banyak obyek.
  • Jika datang lebih awal Anda masih berkesempatan mengambil foto long exposure yang mampu menangkap cahaya lampu jeep. Cahaya jeep menimbulkan efek khas long exposure menambah eksotisme hasil jepretan Anda.
  • Cobalah naik kuda. Sensasi naik kuda di padang pasir ini berasa seperti tokoh pendekar di film-film lawas yang sedang berpacu mengejar waktu.
  • Pemilik kuda sering kali memacu kencang tunggangan mereka saat turun dari mengantar tamu ke tangga di kaki gunung. Ini bisa jadi foto bagus kalau angle-nya pas.

Nah, segera cek di agen perjalanan untuk destinasi wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan ciptakan foto kelas dunia versi Anda.

***

Sumber: pengalaman sendiri dan beberapa sumber yang sudah disebutkan dalam tautan | photo courtesy of Malangkab.go.id

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *