15 menit nulis 1 3


IMG_20130725_104519

9.14

Sebuah post di lini masa Facebook muncul, dari akun traveling resmi negri tercinta. Sebuah pantai dengan langit cerah tanpa mendung, air laut biru ru, ombak putih berbuih, lalu tebing menuju tempat itu tinggi menjulang setelah dipotong untuk dibuat jalan di tengahnya, deretan kursi santai berpayung putih untuk merebah diri melihat laut, jalan terpaving di tepi pantai dengan kios-kios menjual suvenir, dan komentar banyak orang dengan resonansi positif. Indah. Wow. Pantai idaman. Keren banget.

Lalu ada sebuah pantai di belakang rumah teman, lautnya tenang, hampir tak ada ombak, nggak ada jalan paving, nggak ada toko jualan suvenir, nggak ada hotel dan akomodasi semacamnya, hanya sampan dan perahu nelayan, satu bagang kecil untuk memelihara kerapu, dan air yang bening dangkal. Ada sulur-sulur rumput laut liar seperti rambut medusa dan ular-ularnya, sedikit mendekat ke bagang ada koral keras, karang seperti akar kalpataru itu, serta koral bulat kayak kepala gupala.

Pantai kedua buatku lebih indah dari yang pertama. Indah itu masuk ke air. Indah itu basah. Indah itu bening, tenang, senyap dan kalau bisa nggak panas-panas amat. Indah itu merasa di tengah-tengahnya. Puncak-puncak gunung, danau, jalan raya di piggir pantai, pohon rindang di pinggir lapangan, buah juwet di samping kuburan, kresem samping rumah, matoa dekat sumur, dalam berbagai hal harus dirasakan. Bukan sekedar dilihat. Dan pantai juga begitu.

Kalau hanya bisa dilihat, lihat saja National Geographic. Kalau sekedar ingin kepanasan dan kulit gosong, berbaring saja di samping bypass. Jangan di tengah jalan, kasian pedagang bakso jadi susah lewat.

Rasakan. Alami. Berada di tengahnya. Seperti sahabat, rasakan jadi sahabat, nggak cuma jadi sahabat tontontan.

9.29

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 thoughts on “15 menit nulis 1

  • mosoklali Post author

    Analisis: ‘Lalu’ dan ‘ada’ digunakan terlalu banyak jadi terkesan kurang kosakata.

    ‘lalu tebing menuju tempat..’ –par 1 baris 2
    ‘Lalu ada sebuah pantai..’ –par 2 baris 1

    ‘nggak ada jalan paving,..’ –par 2 baris 1
    ‘Ada sulur-sulur rumput..’ –par 2 baris 3
    ‘..ada koral keras,’ –par 2 baris 3-4

    Kesimpulan ‘Dan pantai juga begitu’ terlalu cepat. Premis depannya masih kurang banyak. Kurang ada feel saat ditutup dengan ‘Dan pantai juga begitu’.

    Lainnya masi banyak.