Wonderful Indonesia – Yang bikin Yogyakarta Terasa Istimewa 4


KERATON YOGYAKARTA

Jika hanya boleh menyebutkan satu hal dari Yogyakarta yang bikin selalu terkenang, saya mau menyebut kulinernya saja. Makanannya. Ini keputusan yang tidak mudah sebenarnya, mengingat ada seabrek hal lain yang tak kalah menariknya dibanding makanan. Cuman ragam kuliner di Jogja ini kalau untuk saya selalu jadi alasan penting kenapa pengen ke sana lagi dan lagi.

Yogyakarta atau sering disebut Jogja kan memang terkenal dengan gudeg-nya, jadi pastinya penjual gudeg bertebaran di sudut-sudut kota. Tiap penjual memunculkan citarasa tersendiri. Ada yang ayamnya lembut, ada yg disiram kuah, sambel goreng yang pas, dan lain-lain. Di sebelah utara kampus UGM misalnya, ada Gudeg Hj. Ahmad dan Yu Djum. Dua nama ini sudah terkenal luas baik di kalangan warga lokal maupun para wisatawan. Keduanya juga buka dari pagi dan menyediakan sarapan gudeg lengkap plus air minumnya. Saya suka juga sih rasa gudeg di kedua tempat ini, tapi setelah mencoba sana sini akhirnya pilihan saya untuk gudeg bergeser ke gudeg pinggir POM bensin Kentungan.

Penjualnya ibu-ibu menjelang jadi mbah gitu, jam lima pagi sudah mulai menggelar dagangan di lincak bambu yang ada lubang di tengahnya. Dia duduk dengan kaki berada di dalam lubangan dikelilingi panci berisi bubur, nasi putih dalam tenggok bambu ditutup daun pisang, tumpukan daun pisang disobek selebar sekilan yang dibuat bungkus, ada sambal goreng, krecek, sama lauk-lauk di bejana terpisah. Kadang ada jajanan titipan dari orang. Di belakang lapaknya ada dua tikar kecil digelar buat duduk pembeli yang mau makan di situ. Kalau buat lidah saya sih rasanya malah pas, nggak terlalu kuat. Kalau di Hj. Ahmad misalnya, menurut saya rasanya terlalu gurih. Di sini pas. Nggak terlalu gurih. Olahan daging atau telurnya juga pas. Nggak alot. Di pagi hari seperti itu makan lesehan di samping Jalan Kaliurang yang belum ramai lalu lalang kendaraan rasanya kembali ke jaman Sri Sultan HB X waktu Jogja masih belum seramai akhir-akhir ini. Jalanan masih lengang, masih terasa dingin pagi, kadang ada orang lari pagi lewat di depan, atau tak jarang kabut sisa malam sebelumnya belum sepenuhnya hilang dari pucuk-pucuk pohon di sekitar sana. Ah, bikin kangen.

Siang harinya ada menu lotek atau gado-gado dekat pintu palang kereta Lempuyangan. Sayuran yang dicampur dengan lontong, kecambah atau selada, ditambah adonan bumbu kacang berminyak menyajikan rasa lezat istimewa. Minumnya ada teh, lemon tea, jeruk yang bisa panas atau dingin. Tempat makan ini di kalangan penikmat kuliner dikenal dengan nama Lotek Teteg dimana ‘teteg’ berarti palang perlintasan kereta. Satu porsi seharga 12 ribu sudah bikin kenyang sampai sore. Kalau mau variasi, ada warung lotek dan gado-gado yang tak kalah terkenalnya yaitu di Sagan, nggak jauh dari Lembaga Indonesia Prancis. Pada jam makan siang, baik di Lotek Teteg atau di Lotek Sagan ini bakalan ramai oleh pengunjung. Siap-siap antri saja kalau ke sana sekitar jam 12 siang. Kalau di Lotek Teteg sih masih mendingan karena cobek yang dipakai membuat bumbu mampu menampung bumbu untuk banyak porsi sekaligus.

Kalau nggak mau lotek, ada batagor yang enak di dekat RS Sardjito, di selatan toko Pojok, dekat dengan bengkel sepeda. Dulu lapaknya di sebelah utara Bank Permata Bulaksumur lalu pindah ke sana. Kalau di warung ini ada menu tambahan yaitu es buah. Jangan sampai terlalu sore, bisa-bisa batagor sudah habis diborong mahasiswa atau karyawan di sekitar RS Sardjito atau FK/FKG UGM. Maklum di sana harga batagor hanya 6 ribu rupiah saja, masih terjangkau bahkan oleh kantong mahasiswa.

Di malam hari pilihan ada banyak. Saya rekomendasikan yang nggak biasa aja, yaitu Sego Godhog (sego=nasi, godhog=rebus). Ini sajian nasi yang direbus bersama dengan sayurnya, plus suwiran gading ayam, rempelo ati, telur dan kubis serta tomat. Olahan standarnya sedikit terasa sedikit pedas. Dimakan panas-panas di malam hari di warung yang masih sederhana sekali, di tengah desa, beneran berasa seperti menemukan harta karun terpendam di antara khazanah kuliner Jogja. Dengan minumnya Anda nggak bakal habis lebih dari 20 ribu rupiah per porsinya. Yang paling sering saya datangi yang di Pendowoharjo, di Jl Bantul. Kalau pas rame, jam 9 malam saja antriannya sampai belasan porsi. Bisa-bisa nunggu sejam lebih sebelum giliran kita dilayani. Paling sip datang ke sana jam sekitar jam 7-an malam.

Masih banyak lagi makanan lezat yang bikin daftar wisata kuliner Jogja bisa memanjang. Ayam goreng Mbah Cemplung di Kasongan, bakmi Mbah Mo di Bantul, mangut lele Bu Is di Jl Imogiri, sate klathak Pak Pong dan Pak Bari dua-duanya di Bantul (minumnya teh panas gula batu), berbagai olahan ikan di Moro Lejar, Warung Bu Ageng milik Butet Kartaredjasa di Tirtodipuran, bakmi Kadin, bakmi rebus terminal Concat, jadah tempe Mbah Carik di jakal, berbagai olahan jamur di Jejamuran, sampai angkringan-angkringannya (KR, Lek Man dan kopi joss-nya, Pendopo nDalem, batas kota, pinggir sungai Code, dan banyak lagi).

Dijamin kurang nyuss kalau ke Jogja ‘hanya’ jalan-jalan dan lihat-lihat pemandangan. Buatlah daftar wisata kulinernya juga, supaya wisata ke Borobudur, Ketep Pass, Kraton, Tamansari, Prambanan, Parangtritisnya, deretan pantai di Gunung Kidul dan lainnya jadi lebih istimewa. Tamu-tamu saya aja jauh-jauh datang dari luar kota (atau luar negri) ujung-ujungnya minta wisata kuliner yang ‘nggak biasa’. Kalau yang sudah langganan, biasanya langsung bilang ‘Mas, nanti mampir ke warung A ya’ sebelum mulai tur.

Jangan cukup puas dengan makanan hotel. Cobalah kuliner lezat di seputaran Yogyakarta, niscaya Anda bakal kangen datang lagi ke sana hanya untuk kembali mencicip makanannya.

*******

Terinspirasi dari http://indonesia.travel/en/destination/250/yogyakarta-s-dining-guide | Image by Panji from Indonesia.Travel

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 thoughts on “Wonderful Indonesia – Yang bikin Yogyakarta Terasa Istimewa