Aku dan Istriku 1


Dek pelabuhan

“Aku lebih suka di rumah,” katamu suatu sore.

“Di sini ada anak kita, dapur, internet dan Brownie,” lanjutmu.

Kita sedang bersantai di kontrakan sambil baca buku waktu itu. Aku sedang menghabiskan buku terbaru John Grisham dan kamu bersandar di sampingku sambil baca koran hari ini. Hari masih pagi, belum juga sampai setengahnya, tapi kerjaan rumah kita sudah beres semua. Lantai sudah bersih, daun-daun mangga sudah tersapu ke lubang sampah dan kita sudah sarapan teh dan bubur Manado buatanmu.

Kututup bukuku lalu kupeluk istriku.

“Kenapa. Pengen?” katamu menggodaku.

“Ayok.” sambil kupeluk lebih erat.

Kita sama-sama sadar nggak bisa melakukannya sekarang. Dian, anak kami, sedang main-main di luar dengan Brownie dan bisa tiap saat berlari masuk untuk mencari ibunya.

Kupandangi ransel 80 liter di dinding rumah. Dulu obrolan tentang ransel dan perjalanan yang pernah ditempuhnya menjadi salah satu jurus ku waktu nggombalin wanita yang sekarang kupeluk ini. Kamu selalu tertarik ingin mendaki gunung tetapi akhirnya menyerah setelah trekking satu jam di Nglanggeran.

Kita juga pernah mencoba naik Merbabu tetapi belum juga sampai di post 1 kamu sudah nggak bisa jalan dan kita bermalam di hutan pinus. Paginya seorang pencari rumput menyapa kita yang bangun kesiangan.

“Aku nggak kuat kalau berat-berat begini. Tapi aku mau lihat sunrise. Sunset juga mau kalau sudah sore,” begitu selalu kau bilang. Itu juga kenapa sebuah kamera lawas pemberian teman selalu kubawa saat kesempatan naik gunung muncul di depan mata.

Kamu paling suka kalau kita camping di pantai.

“Ini baru camping,” katamu manja saat akhirnya kita bisa camping bareng di Ngrenehan. Combi biru kita berubah seperti pasar makanan. Entah berapa banyak stok makan yang kau bawa untuk satu malam itu. Gak kebayang kalau jaman dulu aku pernah naik Merapi cuma bawa apel satu dan air minum saja.

Kita memang sedikit berbeda soal gaya jalan. Aku bisa berjam-jam naik gunung di tengah gelap malam tanpa banyak kesulitan dan kau hanya mau pergi ke tempat-tempat mudah dengan pemandangan bagus. Aku biasa bawa bekal sangat terbatas untuk jalan sementara kamu hanya mau berangkat kalo semuanya sudah pasti siap.

Tapi toh akhirnya kita menikah. Kita sama-sama pejalan.

“Foto Merapi-nya bagus ya mas,” katamu sambil menunjuk gambar dari halaman tengah Kompas.

“Ho’oh,” kubalas sambil melirik inisial fotografer di pojok bawah gambar. Pantas, batinku. Inisial yang sudah sering muncul di harian itu.

Tiba-tiba kau letakkan koran di lantai lalu berbalik menghadapku.

“Mas,” senyummu sambil melihatku. Jariku kau remas pelan.

“Aku minta ijin tugas ya. Seminggu, ke Hong Kong.” lanjutmu sambil meringis. Kamu selalu begitu kalau sudah ada maunya.

“Lagi?”

“Iya. Ini seminar lanjutan. Nggak ada orang di kantor yang tahu soal tetek bengek Geo Park selain aku.”

“Oke,” kataku akhirnya.

“Love you,” katamu sambil mengacak-acak rambutku. Ketombe sebesar buliran dedak dan beberapa kutu sedang diaduk oleh tangan mungil istriku.

Lalu kau berbalik lagi membaca koran. Sepintas kulihat gambar Merapi yang kau lihatkan padaku tadi. Aku akan ke sana lagi, janjiku.

***

Kuturunkan barang-barang dari Combi biru. Brownie sudah duluan lari-lari dan mencari-cari ranting kering di pepohonan. Mungkin sudah kencing tiga kaki juga dia. Dian teriak-teriak senang di belakangnya.

Sore Sabtu itu aku pergi camping ke Waduk Sermo bersama anak dan anjingku. Begitu yang kulakukan kalau istriku sedang pergi tugas. Kami sama-sama melancong ke tempat masing-masing. Dia ke kota-kota besar dunia yang gambarnya sering muncul di majalan traveling dan aku ke tempat-tempat dekat yang bisa dijangkau Combi.

Dan mulai kuambil gambar dari kamera butut untuk kupamerkan ke istriku setelah dia pulang.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “Aku dan Istriku