Pria Tua dan Bungkus Kopi 2


secangkir kopi

Pria tua di depanku kembali menyeruput kopinya, pelan. Kopi Bali dengan krimer tanpa gula. Kerutan-kerutan di mukanya mungkin melukiskan setengah abad usianya, tapi matanya masih awas memperhatikan lalu lalang kendaraan di depan toko ku. Sesekali diangkatnya telepon genggam lawas yang dulu sempat jadi incaranku. Warna silver di bodinya sudah tak mulus lagi tapi nggak salah lagi itu Motorola V3 seri 3G. Beberapa kali telepon masuk dan kudengar tawanya senang. Teman dari seberang pulau akan datang akhir pekan ini dan si lelaki tua jelas tampak bahagia. Mungkin sahabat karib atau keluarga.

“Aku suka tokomu,” katanya kepadaku sambil meletakkan telepon beberapa saat kemudian.

“Karena bersih dan tertata rapi?” tanyaku. Kuaduk gula dalam cangkirku. Aku tak suka kopi pahit.

Pengunjung lain lebih suka menikmati kopinya di lantai dua yang ada sofanya, tetapi pria tua ini lebih senang duduk di depan kasir, di sebuah meja kayu kecil, berhadapan denganku.

“Bukan,” tukasnya. Dilihatnya rak-rak tempat kupajang berbagai jenis kopi seperti sedang mencari barang tertentu. Dilihatnya lagi meja meja di sekitarnya, padahal dari tadi juga mereka berada di sana. Aku dilihatnya lagi seperti selesai menginspeksi seluruh isi lantai dasar.

“Aku suka karena bungkusnya dari kertas,” katanya sambil tersenyum. Sekeping kue kering yang datang bersama kopinya mulai dimakan.

Karena dibungkus kertas? Aku tak tahu harus menjawab apa. Kalau orang memuji rasa kopi ku yang enak atau bertanya jenis apa saja yang dimiliki toko ini dan dimana letaknya aku akan menjawab dan menunjukkannya dengan mata tertutup. Bahkan jika mereka mengejar sampai dimana lokasi tanam kopiku atau bulan apa kami panen, aku tahu jawabannya di luar kepala. Aku bahkan bisa mengatakan berapa ribu batang kopi robusta dan arabika di tempat kami menanam. Berapa banyak luwak yang berkeliaran di kebun aku juga tahu jawabannya. Tapi suka kopiku karena terbungkus kertas?

“Aku harus menjawab apa?” kubilang saja padanya.

Dia tersenyum lagi. Digesernya kursi pendek tempatnya duduk lalu diseruputnya lagi kopi berbusa putih itu. Keping pertama roti keringnya sudah habis. Sedikit “Aahh..” keluar di akhir tegukannya. Itu yang sering kudengar dari orang-orang yang ke sini. Bukan pujian karena kopi bungkus kertas.

“Kan aku tidak bertanya padamu. Aku hanya bilang kalau bungkus kertas itu membuatku betah ngopi di sini,” jelasnya.

“Kalau rasa kopinya bagaimana menurutmu? Kulihat dari caramu menikmati kopi kau tahu banyak tentang bijian itu,” tanyaku.

“Oh tidak, aku tak tahu banyak,” sahutnya cepat. Diambilnya sebungkus golden blend yang tadi diambilnya dari rak lalu diletakkan di depanku.

“Aku cuma tahu kalau tingkat keasaman kopi robusta lebih rendah dari arabica. Itu saja yang penting buatku. Aku ada maag,” ujarnya.

Memang yang dipilihnya itu kopi robusta.

“Tapi bagaimana kamu tahu kalau itu robusta? Kami tak pernah menuliskan jenis kopi di kertas pembungkus,” tukasku. Memang begitulah. Kami tidak mencantumkan jenis kopi yang dipack kecuali setoran dari toko lain yang memang sudah ber label. Kau lihat kan? Dia memang ahli kopi.

“Oh, itulah yang kusuka dari bungkus kopimu. Kertas sedikit banyak mengeluarkan aroma kopinya dan itu yang bisa ditangkap hidungku” jelasnya pendek, sambil tersenyum.

“Dari itu saja? Dari baunya?” kejarku.

“Ya, dari baunya. Kalau kamu sudah setua aku kau akan hafal bau kopi kesukaan mu,” katanya menambahkan.

Aku pun sekarang bisa membedakan jenis kopi sekarang, tapi itu karena aku sudah bertahun-tahun berkecimpung dengan biji-bijian tersebut. Lelaki tua di depanku juga bisa melakukannya lalu menganggap itu hal biasa untuk orang seusianya. Ah entahlah. Mungkin dia orang eksentrik yang lahir untuk mengatakan mana biji yang baik mana yang tidak.

Telepon lipatnya kembali berdering.

Si pria tua terlihat sumringah saat mendengar suara wanita di seberang.

“Oke. Tunggu sebentar kami ke sana,” pungkasnya lalu menutup telepon.

“Habiskan kopimu. Ibumu sudah mendarat.” katanya padaku.

Yang harusnya masih beberapa seruput lagi itu kuhabiskan sekali tenggak. Aku pamit pada orang-orang, ketemu Ketut sebentar, lalu meluncur kembali menuju bandara.

***

Pria tua itu bapakku. 56 tahun dan masih sehat wal afiat. Pesawatnya tadi mendarat dua jam lebih awal dari penerbangan ibu dan dia memaksa untuk langsung ke warung kopi kami di daerah Seminyak.

Aku tahu pasti kenapa dia ingin ke warung. Dia ingin memastikan bahwa toko itu masih sama seperti saat dikelolanya dulu: tak melibatkan sehelai plastik pun dalam jual beli. Bapak selalu bilang kalau sekali menawarkan plastik kepada pelanggan maka kami berdosa lebih dari 500 tahun kepada alam. Lebih dari tujuh turunanmu plastik belum juga terurai, katanya selalu menegaskan.

Sudah lebih dari lima tahun Berkah Kopi kupegang dan pesan bapak itu selalu kupegang. Toko kami tak sekali pun melibatkan plastik apalagi plastik bening dan kresek untuk bungkus kopi. Toh orang bisa mengerti kalau dijelaskan kenapa kami hanya memakai kertas daur ulang untuk semua bungkus. Mereka juga senang saja membawa pulang kopi tanpa wadah plastik.

Bapak takut suatu saat bungkus kopi kami sampai di Ranu Kumbolo atau Segoro Anakan dibawa oleh pendaki, dibuang di sana dan mencemarinya selama lima ratus tahun lebih. Bapak lebih takut lagi jika ternyata malaikat bertanya kenapa tokonya, toko milik orang yang katanya pecinta alam berani mengotori bumi selama ratusan tahun lewat bungkus-bungkus yang dipakainya.

Makanya diletakkannya sebuah kaligrafi Arab di dinding sebagai pengingat untuk kami yang mengelola toko:

“Wa naktubu maa qoddamaa wa aa-tsaa-rohum”

Dan Kami mencatat (serta meminta pertanggung jawaban) atas apa yang sudah diperbuat manusia plus bekas perbuatan yang ditinggalkannya.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Pria Tua dan Bungkus Kopi