Gunung Agung, Kapan Ke Sana?


[Gambar Atas]Danau Batur dilihat dari atas. [Gambar Bawah] Gunung Agung terlihat dari jalan raya menuju Tulamben, Bali.

[Gambar Atas]Danau Batur dilihat dari atas. [Gambar Bawah] Gunung Agung terlihat dari jalan raya menuju Tulamben, Bali.

Itu dia pertanyaan saya yang belum kunjung terjawab. “Kapan mau mendaki Gunung Agung?” Sudah lumayan lama tinggal di Bali dan sampai saat ini belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana untuk mendaki. Mungkin sekali dua pernah berada di kakinya, tapi itu sekedar lewat saja.

Gunung Agung sebenarnya tidak jauh dari tempat saya tinggal, sekitar dua jam perjalanan sudah saja. Sama seperti Jogja-Selo kalau mau ke Merapi atau Merbabu. Medan perjalanannya pun, dari beberapa blog-walking, kurang lebih sama. Ke sananya jalan aspal alus sampai ke titik awal pendakian dan medan ke atasnya mirip Gunung Merapi, kata rekan di sini. Dibilang juga kalau daypack sudah cukup untuk membawa bekal perjalanan naik turun Gn. Agung. Well, no problem. Daypack bisa diusahakan. Kompor sama nesting dan kelengkapan standar juga tidak susah dicari. Bahkan kalau perlu HT untuk komunikasi dengan basecamp pun bisa dipinjamkan (ini pengalaman di Merbabu: bawa HT bikin hati tenang karna selalu tersambung dg kawan2 di bawah).

Yang bikin saya nggak yakin buat naik adalah fee pemandunya. Pernah baca (lupa di mana) kalau sekali naik harus bayar 600 ribu untuk biaya pemandu. Di blog kawan dibilang up to 800 ribu (waktu itu dia naik berbanyak, jadi per orang kena sekitar 100 rb). Di basecamp pemandu resmi waktu jalan ke Danau Batur tertulis 700 750 ribu untuk guiding ke Gn. Agung. Info terakhir beberapa saat lalu dibilang 300 ribu.

Ini dia fee pemandu untuk mendaki Gunung Agung di Bali

Ini dia fee pemandu untuk mendaki Gunung Agung di Bali

WTH!

Untuk yang suka mendaki di gunung-gunung di Jawa pasti tahu kenapa saya kaget banget. Wajib membawa pemandu ini hal baru. Paling tidak di Sumbing, Sindoro, Merbabu, Merapi, Lawu, Slamet, Semeru mereka nggak ada kewajiban buat bawa guide. Yang wajib dilakukan pendaki adalah mendaftar di pos/base camp dan membayar retribusi. Jika ingin membawa guide maka petugas di basecamp bisa menyediakan, misalnya jika kita naik gunung bawa tamu asing atau bawa anak kecil. Pada keadaan seperti itu guide bisa membantu selama perjalanan baik sebagai penunjuk jalan maupun membawakan barang kita. Asal masih daypack saya kira pemandu nggak akan keberatan membawakan. Atau kalau memang dari awal bertujuan untuk membawakan barang, ya dari awal bilang aja ke petugas kalau butuhnya porter.

Nggak tahu ini tepat atau tidak tapi bandingkan Gunung Agung dengan Gunung Merapi dan kota-kota di sekitarnya (Semarang, Magelang, Ungaran, Solo). Merapi seperti sudah menjadi kiblat untuk kegiatan outdoor. Sudah seperti Simpang Lima-nya Semarang, Alun-Alun-nya Magelang atau Malioboro-nya Jogja dimana orang selalu berniat ke sana tiap akhir pekan datang, atau malah tiap malam. Begitu ada keinginan langsung saja bisa berangkat tanpa harus mikir biaya banyak. Makanya trekking solo juga banyak dilakukan orang karena Merapi tidak ingkar janji. Ah, kok malah slogan Merapi. Tapi begitulah, ada perbedaan antara keduanya.

By the way, lain ladang memang lain belalang. Take it or leave it, begitu kata penjual di FJB.

Tenda yang belum lama datang dari Jawa itu sepertinya masih harus menunggu beberapa saat lagi untuk sampai di Gunung Agung, nunggu sampai pemiliknya punya cukup uang untuk mengongkosi pemandu. Pemilik tenda itu bukan orang berada. Harus nabung untuk bisa ke Gunung Agung. Tapi dia masih pengen naik ke sana, mungkin membawa satu liter thinner dan sikat pakaian untuk ngilangin vandalisme di bebatuan sepanjang perjalanan.

Mendaki Gunung Agung, Bali

Gunung Agung, Bali

Foto dari blog kawan di sini: http://andylabina.wordpress.com/2010/06/28/pendakian-gunung-agung

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *