Jadi Pejalan Itu


Kedip-kedip-kedip. Kedip-kedip-kedip.

Notifikasi mensyen dari twitter teman, ringkasnya berbunyi gini:

“Mas pemburu hadiah, ini ada lomba nulis tema bahagia jadi pejalan blablabla baca selengkapnya di blog-ku.”

Jelek-jelek gini masih dianggap pemburu hadiah. Okefine. Kita lihat apa dewi Fortuner (mobil idaman ‘seseorang’ nih, ehem) sama dewa Bejo masih mau bantu-bantu cari rejeki lagi.

Aku bakal nulis tema itu dari pengalaman selama ini.

Oh ya, tau-tau ingat kalo Dewa Bejo tu kepanjangan dari Desa Wisata Beji Harjo yang mengorganisir Goa Pindul. Diksi yang tepat. Otak kalo lagi nggak dipake emang agak tajam. Cerdas. Padahal kalo lagi dipake perlu, apalagi pas ujian, langsung ngancing nggak mau jalan.

***

Dua hari berlalu, tau-tau tiga hari sejak mensyen itu dan belum ada draft mau nulis apa. Tapi tadi pas waktu sholat tiba-tiba ada ide muncul dari setan. Tau-tau nongol. Jelas. Gamblang. Jreng. Kayak udah bentuk skrip jadi, tinggal kirim. Setan emang gitu. Ngasih ide-nya kalo gak pas rokaat pertama ya pertengahan ibadah. Yang kira-kira kita pas konsen-konsennya gitu.

Biasanya dia ngajak diskusi di pikiran. Kan makmum tinggal ngikut gerakan imam ya, nah, setan gw tadi ngajakin mikir cari ide nulis tema ini, apa yg kira-kira keren, mana yg bisa digabung, pake nama asli atau nggak, fotonya disimpen di folder mana, dsb dst trus tau-tau jamaah udah sampai di rokaat tiga dari total empat. Salut bener sama setan saya. Dia bisa ngerangkai itu memori satu sama memori lain trus diputer balik lagi di kepala jadi kayak nonton pilem di 21 pas di tengah-tengah waktu sholat.

Mungkin dia belajar dari wanita-wanita cantik penggoda pria. Tahu mana yang harus disentuh supaya cowok bisa lupa ingatan.

Mungkin juga dia murid generasi pertama Michael Bay, soalnya sekarang aja lamat-lamat keliatan Optimus Prime lagi bacok-bacokan sama Decepticon di jalan raya. Terakhir, sebelum mati beneran, musuhnya bilang: “Di filem depannya, bos besar saya bakal hancurin bumi, Mus.”

Saya lagi nggak sholat tapi kesetanan lagi.

Cuman bener. Ide dari setan saya tadi lumayan masuk akal. Di antara idenya dia nyaranin buat nulis tentang perjalanan ke PTPN IX, Ambarawa, Ketep Pass, lalu camping ceria di New Selo tahun lalu bulan Oktober. Perjalanannya nggak lama tapi dapatnya banyak.

Saya boncengan sama Basundara, salah satu sesepuh jalan-jalan. Doi sama-sama kulinerian wanna be kayak saya. Wanna be karena ati ngebet, duit cupet alias pengen banget nyobain apa-apa tapi duit mepet. Kami akhirnya ambil rute Jogja-Muntilan-Magelang-Temanggung-Ambarawa-Salatiga-Ketep-Selo, memutar jauh dari rute teman-teman lain yang langsung naik Ketep dari Muntilan.

Transit pertama kami tentu perkebunan kopi milk negara, PTPN IX, di Banaran. Kopi kental panas dari hasil bumi Banaran asli, singkong goreng empuk agak asin, kursi meja kayu ala jaman kolonial, temen ngobrol sesama pejalan, waktu luang banyak, well, kalo nggak ada janji sama teman-teman BPC Jogja mungkin kami bisa nongkrong berjam-jam di sana.

Oya, kami berdua masih belum ‘stabil’ waktu itu. Saya belum kelar ‘berguru’, dia ga jelas ngapain. Keknya lagi cari kerja. Jadi kita berdua ga bawa duit banyak. Catet yak. Ini bukan trip pake mobil hitam kinclong berkilat, full AC, jauh dari debu jauh dari panas, bukan. Kami cuma naik Karisma yang rantainya udah bunyi-bunyi kayak mau loncat dari roda giginya dengan duit pas-pasan. Tapi toh nekat juga mampir ke Banaran yang mahal itu. Aji mumpung. Mumpung udah sampe, mampir. Urusan makan besok dipikir besok. Gitu. Lagian belum tentu ada waktu lain buat jalan sama dia muter-muter kayak orang siliwung gini.

Setelah dirasa cukup kami lanjut lagi. Kita sempat mampir di Museum Kereta di Ambarawa. Pengennya sih naik kereta uap jaman kompeni yang sekarang dioperasikan untuk wisata itu. Bahan bakar kayu, gerbong khas Perang Dunia, rute naik turun bukit sambil moncongnya keluar asap putih bunyi tuuut-tuuut-tuuut jess-jess-jess wow pasti keren. Tapi nggak kesampean karena udah kesiangan.

Foto sini sana, lihat-lihat kayak turis beneran, ngobrol punya ngobrol sama sesama orang di sana eh ternyata kita ngobrol sama pawang hujan yang lagi nyambi jadi Tour Leader. Obrolan klenik Jawa nggak bisa dihindarkan. Untung saya ada temenan sama orang Banyuwangi, obrolan kami nyambung juga. Hahah.

Dari dia akhirnya saya tau kalo turing-turing moge itu biasanya pada bawa pawang hujan. Tapi kita nggak mau bahas tentang Dewa Hujan, hierarki, tata cara pemanggilan, sesajen dan sejenisnya to? Soalnya kami udah bahas sejauh itu. Saya sama Basundara mah lumayan pinter pasang tampang bego, bikin si bapak cerita panjang lebar soal profesinya yang klenik itu.

Sempat kebayang pulang-pulang ke kosan langsung buka praktek jadi dukun hujan. Tapi sempat ketar-ketir juga jangan-jangan tar di antara Ambarawa-Ketep bakal kena hujan hasil kerjaan dia cuman kayaknya dia bukan tipe pendendam sama pejalan bonek macam kami. Buktinya kami baru kena hujan betulan waktu udah sampe di Ketep Pass setelah ketemu sama temen-temen BPC.

Perjalanan dari Museum Kereta di Ambarawa ke Ketep Pass ini lah yang paling menarik menurut saya. Pertama, itu jalur baru buat kami berdua. Kami cuma sama-sama pengen jalan yang kita lewati itu nembus jalur Salatiga – Kopeng. Udah dapet petunjuk sih dari bapak pawang hujan kalo kami di jalur yang benar tapi sebenarnya itu pengalaman baru. Saya dan Basundara sama-sama belum pernah lewat. Malam sebelumnya kami cuma mengotak-atik adanya jalur khayalan yang menembus kedua daerah.

Mau nggak mau kami nanya orang buat dapat jalan yang kami maksud. Tapi beneran asik itu jalan. Belokannya, tanjakannya, Rawa Peningnya, ada pemandian di mata air, rest area, pohon-pohon, angkudes-nya semua jadi kombinasi gado-gado indah khas pedesaan.

Kedua, ini perjalanan pencerahan terutama buat saya. Saat melihat Rawa Pening di kiri jalan saya seperti melihat pergulatan Uling Putih dengan Agung Sedayu. Ketika melewati wilayah Banyubiru saya seperti merasa baru sampai di daerah ini setelah menempuh perjalanan berkuda menyusur punggung Merbabu jauh dari Prambanan sana. Jalanan di depan yang nyata-nyata aspal nampak menjadi jalanan tanah di mataku. Rumah-rumah itu berubah jadi kawasan hutan lebat dengan jalur kuda di tengahnya dan areal persawahan di tepinya. Murid-murid Ki Sentanu seperti sedang bertarung menghadapi gerombolan liar dari Alas Mentaok yang nyanggong wilayah makmur ini mau merampok hasil tani dan ternak warga desa.

Sepanjang jalan saya seperti disuguhi pemandangan dimensi ketiga. Saya masuk dalam roman Singgih Hadi Mintardja: Api Di Bukit Menoreh. Tak lagi kelihatan itu rumah-rumah dinding bata, mini market, bengkel motor yang kotor oli di depannya; Rawa Pening dan Banyubiru menjelma menjadi pedesaan subur penuh rumah joglo besar penanda kemakmuran warganya. Mungkin Ki Tanu Metir sedang melihat dari ujung bukit, mengawasi laju motor kami di jalanan pedesaannya memastikan kami bukan dari gerombolan Uling. Aku tahu dia melilitkan cambuk pendek di balik bajunya. Tak seorang pun bisa lupa dengan kehebatan Orang Bercambuk saat dia benar-benar sudah ingin memutar cambuknya.

Saya merinding membayangkannya. Dulu wilayah ini adalah basis perjuangan pasukan kuat dari Demak. Orang-orang sakti yang benar tingkah lakunya. Kuat mesu diri di tengah malam hingga orang tak tahu mereka adalah pendekar ternama. Olah kanuragan sudah menjadi santapan harian mereka, sama seperti para pendekar hebat di mana-mana, tak terasa pelan tapi pasti mereka sendiri jadi orang hebat itu. Penjahat kawak yang dulu seenaknya bikin onar harus berpikir ulang untuk mengacau Banyu Biru. Ya, Banyu Biru yang sekarang kami lewati dalam perjalanan menuju Ketep.

Mungkin Rawa Pening terlihat biasa untuk sebagian orang, tetapi bagi saya daerah ini menyimpan cerita perjuangan tersendiri. Cerita tentang wilayah subur, penguasa adil, rakyat pekerja dan orang-orang sakti yang tinggal di sana.

Tanpa terasa kami mulai menanjak ke kanan di jalan besar yang kukenal. Kami sudah menjauh dari Rawa Pening di poros utama Kopeng-Salatiga. Pemandangan berangsur menjadi sedia kala. Aku memijak foot-step belakang motor Basundara, bukan pelana kuda. Sesekali orang bertopi lusuh pake motor tua, bukan kuda, lewat membawa sebongkok hasil ngaritnya pagi itu. Di beberapa kelokan tajam sudah ada besi pembatas supaya kendaraan tak terlalu jalan ke pinggir dan pelan namun pasti gapura jalan menuju desa Thekelan mulai terlihat. Mobil wisata dan angkutan pedesaan sudah lalu lalang mengantar penumpang.

Aku sudah kembali di dunia nyata, menuju ke petualangan berikutnya. Mungkin dengan jaket dan jeans yang sama dengan yang kupakai saat itu.

***

EPILOG

Saya paling suka kalau berada di suatu daerah yang saya kenal baik. Bisa melalui petualangan sebelumnya, dari buku cerita, internet, kisah perjalanan teman, dan lain-lain. Bagi saya Candi Prambanan, Candi Gedong Songo, Jalan Daendels, Panarukan, Merapi, Bromo, Besakih atau tempat lain yang saya kenal memiliki cerita lain yang lebih dari sekedar pemandangan alamnya. Padahal pemandangan alamnya saja sudah bagus lho.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *