Jogja vs Bali: Pilih Mana? 6


Yogya di waktu malam

Yogyakarta the kota gudeg dan Bali Pulau Dewata. Yang satu punya Gunung Merapi dan satunya lagi punya Gunung Agung. Di antara keduanya mana yang jadi tempat favorit? Ini versi saya:

Wisata

Persamaannya, Jogja dan Bali sama-sama punya wisata budaya, petualangan, kuliner dan belanja. Bedanya, budaya di Jogja lebih banyak ke arah peninggalan sejarah sedangkan di Bali adalah budaya yang masih hidup (tari, ritual agama seperti Ngaben dan Galungan, plus budaya sehari-hari yang kental dengan muatan agama mayoritas di sana). Jogja lebih menitikberatkan pada tempat-tempat sejarah seperti Kraton, Tamansari, Alun-alun dan Merapi sebagai destinasi wisatanya sedangkan Bali pada sweet escape locations atau tempat liburan asik seperti ketenangan di Ubud, party di Kuta atau diving di sekitaran Tulamben. Ada sedikit perbedaan di sini: Jogja lebih ke wisata ‘pergi ke’ sedangkan Bali ‘tinggal di’. Wisatawan pergi ke Keraton, Tamansari, Malioboro dan lain-lain saat di Jogja sedangkan di Bali para wisatawan tinggal di Ubud, Sanur dan lain-lain.

Keduanya juga sama-sama punya rafting dan trekking gunung (Gn. Merapi, Gn. Merbabu vs Gn. Batur, Gn. Agung). Banyak pantainya juga. Bedanya, jenis pantai di Jogja lebih buat pemandangan dengan sedikit spot untuk kegiatan di air secara maksimal sedangkan Bali punya berbagai tempat buat beginian. Tanjung Benoa menyajikan lengkap dari banana boat, para-sailing, sampai diving. Kalau soal diving Bali bahkan menyajikan spot-spot yang bisa dibilang mengelilingi pulau mulai dari Sanur, Padang Bai, Tulamben, beberapa spot di Singaraja, Menjangan, dan di dermaga Gilimanuk. Jogja mungkin punya pantai-pantai di deretan Wonosari tetapi nggak bisa maksimal buat renang atau snorkeling karena di bawahnya terdapat banyak karang cukup tajam. Ada beberapa sih yang dasarnya pasir tetapi nggak sampai jauh dari bibir pantai.

Harga

Nggak perlu dibahas panjang lebar, lebih murah hidup di Jogja daripada di Bali karena perputaran uang di Bali saya rasa lebih banyak dari pada di Jogja. Lagi pula dollar di Bali sudah nggak terlalu aneh buat para pelaku bisnisnya karena sektor pariwisatanya mengajarkan mereka untuk menerima mata uang selain rupiah itu.

Efek langsungnya adalah harga-harga di sana lebih tinggi dari harga di Jogja. Well, paling tidak buat para pelancong. Untuk orang-orang yang hidup di sana tentu bisa memilih tempat yang harganya terjangkau oleh kantong masing-masing.

Masih dalam hubungan dengan turisme salah satu efek samping dari perputaran dollar (USD, AUD, SGD, dll) di Bali adalah harga yang terkesan tidak masuk akal bagi orang-orang dari daerah murah (baca: Jawa). Untuk masuk kawasan wisata Tanah Lot misalnya, saat ini tiap orang dikenakan tarif masuk sebesar 30 ribu rupiah. Bandingkan dengan Parangtritis yang tak lebih dari 5 ribu rupiah saja (CMIIW). Atau lihatlah tarif pemandu untuk trekking Gunung Agung yang sampai 750 ribu jika dibanding pemandu Merapi yang 300 ribu saja. Agak jauh terpaut bukan? Padahal jarak tempuh kurang lebih sama-sama empat atau lima jam.

Masyarakat

Sama-sama asik sih baik orang Jogja maupun orang Bali. Meski orang Jogja ataupun orang Bali sama-sama cenderung menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi sehari-hari termasuk para pekerja sektor wisatanya tapi mereka dengan senang hati akan berpindah ke Bahasa Indonesia jika tamu tidak mengerti bahasa lokalnya. Orang Bali dan orang Jogja juga sama-sama senang mengajarkan bahasa daerahnya ke turis/pendatang.

Saat menyusur ke pedalaman di kedua daerah, sama-sama didapati orang-orang desa dengan segala kedesaannya termasuk keramahan, murah senyum, dan terbuka terhadap pengunjung. Jangan ragu untuk mampir bertanya jalan jika tersesat atau raggu. Pakai Bahasa Indonesia saja jika memang tak bisa bahasa Jawa atau Bali.

Dari segi komunitas dan kreatifitas saya rasa orang-orang orang di kedua daerah saling bersaing. Maklum banyak seniman Jawa yang migrasi ke Bali dan sekarang meramaikan dunia seni Pulau Dewata. Seni lukis, pahat, daily art, mural, aksesoris sampai tata kota di kedua daerah mencerminkan betapa seni sudah jadi bagian dari hidup.

Bekerja

Tentu ada perbedaan jenis pekerjaan di kedua tempat. Yogyakarta begitu kental dengan ikon kota pendidikannya; ada entah berapa puluh universitas di sana. Penduduk luar daerah berbondong-bondong memadati Jogja untuk menghabiskan empat tahun di bangku kuliah lalu kembali keluar untuk mencari penghidupan setelah menyelesaikannya. Banyak di antara mereka yang memilih membangun usaha di wilayah kekuasaan Sultan tersebut sehingga cepat tapi pasti Jogja semakin kekurangan lahan bagi warganya.

Pola kehidupan seperti ini membuat lahan kerja di Jogja juga berkaitan erat dengan pendidikan. Kos-kosan, fotokopi, warung makan, angkringan, warung kopi, tempat futsal dan hal yang berbau kegiatan mahasiswa lainnya tumbuh dengan suburnya. Bidang wisata juga berkembang tetapi dibanding Bali saya lihat masih jauh tertinggal.

Hotel, restoran, bar, ticketing, transportasi, merchandising, spa yang banyak disukai wisatawan di Bali belum begitu marak di Jogja. Bisa jadi karena wisatawan lokal lebih mendominasi Jogja sedangkan wisatawan asing banyak yang pergi ke Bali. Pekerjaan macam petugas valet parking, cleaning service, customer service, GRO, personal assistant, sampai villa manager bisa ditemui dengan mudah di Bali. Sudah jadi persyaratan wajib bahwa pekerja di Bali harus bisa bahasa asing serta memiliki jiwa sosial multinasional. Setidaknya bagi yang benar-benar pengen eksis di sana, bukan sekedar mampir kerja.

Peluang untuk bertemu pembeli internasional juga terbuka lebar di Bali; maklum jalur transportasi langsung dari luar negri ke sana sudah tersedia dengan baik.

Nah, bagaimana menurut Anda tentang Yogyakarta dan Bali? Ini hanya ulasan singkat dari sedikit pengalaman saya tinggal sebagai penduduk Yogyakarta dan Bali. Mungkin akan lebih akurat jika saya tinggal lebih lama lagi di Bali dan fasih bicara Bahasa Bali seperti lancarnya saya bicara Bahasa Jawa.

—-

Ditulis dalam rangka bersih-bersih draft tulisan. Gambar diambil dari Indonesia.Travel

Sanur, Januari 2014 dan Jepara, Juli 2014

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 thoughts on “Jogja vs Bali: Pilih Mana?