Bikin Film Yuk! 5


Vespa keren mejeng di depan kawah Gunung Bromo

Vespa keren mejeng di depan kawah Gunung Bromo

Ada perasaan semacam senang, kagum, melankolis dan mengembara saat saya kembali menyusur jalanan. Ketika kerjaan yang menumpuk dan deadline padat seolah tak kan lagi jadi beban, atau mencari pekerjaan itu sendiri juga tak lagi pikiran.

Seperti halnya saat duduk di viewpoint Bromo kemarin siang.

Saya teringat pada Anna, bule dari Inggris yang dulu minta diantar ke sini pas penelitiannya sudah selesai. Apa kabarnya? Di mana sekarang? Mungkin sudah selesai Ph.D. dan jadi full professor di unversitasnya sana. Wanita paruh baya, rambut coklat tua pirang di ujungnya, meneliti tentang batik di Imogiri, ketawa-ketawa waktu lihat ada papan nama MAN 1 Tempel dan minta foto sama papan nama sekolah itu. Anna juga yang bersikeras untuk nggak difoto tanpa seijinnya.

Di kontrakannya sana dulu ada mbah-mbah yang jadi temen karibnya. Sewaktu-waktu mbah itu datang dia ngasih sesuatu; barang-barang kecil. Ada juga tetangganya yang ngajari goreng tempe bumbu bawang putih + garam dan Anna begitu jatuh cinta sama makanan tradisional itu. Dari Anna ada pelajaran bahwa tidur serumah dengan bule tua itu tabu bagi orang-orang kampung. Hahaha. She was not even sexually attractive.

Anna muncul begitu saja sejak pertama kali melihat papan penunjuk arah Bromo dari Probolinggo. Hotel Yoschi, L300 dan sopirnya, bangun pagi buta dijemput Jeep, mengendara dalam kabut di lautan pasir, berdesak-desakan di Penanjakan dengan turis-turis lain, dan bersorak saat akhirnya matahari terbit juga. Ini sisi melankolis sebuah perjalanan? Bisa jadi.

Namun ada pula pikiran lain sesaat setelah ambil foto-foto di viewpoint. Interstellar; film box office yang banyak diacungi jempol di seluruh dunia. Ikon-ikon gambar orang melongo, pikiran meledak dengan warna-warni pelangi dan berbagai ekspresi serupa muncul akhir-akhir ini. Tapi filmnya memang keren. Mungkin film terbaik setelah Inception.

Yang lebih keren adalah iklan sebelum itu, sebelum film dimulai: XXI lagi ada festival film pendek tingkat nasional. Pernah lihat iklan-iklan kreatif dari Thailand? Beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. “Giving Is The Best Communication” dari True Move H

Anak kecil nyuri obat, ketangkap, trus ditolong sama tukang jualan sop. Obatnya dibayari sama si tukang sop malah ditambah sebungkus dagangannya. Si anak selamat, nggak jadi dipukuli sama pemilik toko obat, dan langsung kabur setelah menerima obat yang dia curi + sebungkus sop dari si bapak.

Bertahun kemudian mendadak pak sop jatuh sakit parah dan masuk rumah sakit. Saking mahalnya biaya operasi mau ga mau anaknya, cewek, yang dulu lihat bapaknya nolong pencuri obat, harus jual rumah buat nutup pengeluaran. Ketiduran di samping ranjang bapaknya si cewek kaget karena tagihan yang malam sebelumnya tertulis angka-angka fantastis yang nggak terbayar kecuali dengan jual rumah itu tahu-tahu tertulis SUDAH DIBAYAR 30 TAHUN LALU, DENGAN BEBERAPA ANTIBIOTIK DAN SEBUNGKUS SUP.

Ternyata anak kecil maling obat dulu itu sekarang jadi dokter bedah nangani operasi si bapak. Filmnya ada di sini.

2. “There Are No Perfect Fathers. But A Father Will Love Perfectly.” dari Thai Life Insurance

Cewek remaja dibully sama teman-teman sekolahnya karena bapaknya bisu. Si bapak padahal sayang banget sama dia. Nganter dia sekolah, menyemangati buat makan banyak supaya cepat gede bahkan nyiapin kue ultah di hari istimewa tersebut.

Sayangnya si cewek remaja malah mencoba bunuh diri tepat di hari ultahnya, nggak kuat dibully di sekolah. Si bapak nangis-nangis langsung membawa anaknya ke rumah sakit dan dengan bahasa isyarat mengatakan pada dokter ambil saja rumahku, darahku, apa saja yang kupunya, tapi jangan ambil anakku.

Akhirnya transfusi dilakukan dengan darah si bapak dialirkan ke anaknya. Si cewek terbangun menangis lihat bapaknya terbaring di samping ranjangnya. Filmnya ada di sini.

3. Iklan shampoo Pantene dari Thailand

Cewek remaja yang bisu dan tuli diolok-olok sama temen-temen ceweknya karna belajar violin. Cewek ini kekeuh belajar karna pengen ikut festival musik. Temennya yang ngolok-olok ternyata juga pengen ikutan festival dan belajar keras banget memainkan piano, sampai ngundang guru les ke rumah.

Guru cewek bisu adalah lelaki paruh baya yang juga bisu dan tuli, pengamen jalanan, tapi mahir memainkan violin. Nasehat dari dia, musik itu dirasa, ntar muncul sendiri.

Saat festival tiba dan cewek piano udah selesai bermain dengan kerennya tiba-tiba pembawa acara mengumumkan ada peserta terakhir yang mau tampil. Siapa lagi kalo bukan si cewek bisu tuli. Dengan sepenuh perasaan dia mengalirkan perasaannya. Cemoohan teman, bullying mereka, pelajaran dari pemain biola bisu tuli, sampai kejadian pas biola si bapak dihancurin sama anak-anak nakal semua diterjemahkan dalam rasa musik.

Hasilnya, dia sempurna memainkan Canon in D Major nya Johann Pachelbel. Standing ovation. Videonya di sini.

Sambil melihat kubah Bromo dari kejauhan saya mikir, kenapa nggak menyatukan resources kawan-kawan sendiri untuk bikin video serupa? Kenapa nggak dengan alat seadanya kita buat film pendek inspiratif kayak gitu. Nggak sesulit yang dibayangkan pastinya. Apalagi kalau durasinya pendek. Dua menit misalnya.

Bidang menulis naskah ada Ajo. Talent ada Like. Alat mungkin bisa melibatkan artis Syukron. Saya sendiri pernah coba bikin film otobiografi pendek yang sempat meloloskan ikut ACI Detikcom 2010. Kamu mungkin juga tertarik buat bikin-bikin beginian. Kenapa nggak dicoba?

Saya udah lama banget pengen bikin-bikin film pendek. Sayangnya Canon G12 yang harusnya bisa jadi media itu rusak satu hari setelah barang saya terima dari luar kota. Dan sampai sekarang masih ngendon di tukang reparasi setelah 5 bulan lebih opname di sana.

Kalau ada yang ngajaki saya buat bikin film kreatif, I’d be more than happy to join the team. Apalagi kalo bikin film ini bisa jadi kerjaan tetap. Sempurna.

 

————————-

Banyuwangi, 30 November 2014
On the way ke TN Baluran

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 thoughts on “Bikin Film Yuk!