Mbolang ke Lombok – Part III


Aahh.. akhirnya pagi juga. Tau rasanya pagi bangun di hotel, pinggir pantai, ada sarapan, gratis (hell yeah!), banyak teman, liburan masih dua hari lagi and you are heading to Rinjani? Oh well. Rasanya seperti hidup nggak ada beban, hutang-hutang sudah lunas, bos ngasih tambah gaji, jam kerja berkurang beberapa jam, trus tau-tau punya rumah dan ada yg masakin di rumah. Unbelievable. Berasa nggak percaya.

Pagi hari ngopi dan sarapan sama Bos Najih dan Mbex, di pinggir Pantai Senggigi, Lombok

Pagi hari ngopi dan sarapan sama Bos Najih dan Mbex, di pinggir Pantai Senggigi, Lombok

Ngimpi apa kemaren malam ya? Perasaan di kapal kita nggak sempat tidur beneran boro-boro ngimpi, eh, tau-tau dapat tumpangan hotel di pantai Senggigi, dapat kopi, sarapan nggak pake nasi (alesan, padahal nasinya aja yg lagi habis), bisa nongkrong lama di resto hotel, horeeee!!

Sekali lagi thank to bos Najih; kamu mamen banget dah. Haghaghag. Kapan-kapan kalo ada lowongan buat nebeng ke Raja Ampat yang udah termasuk tiket pp, hotel dan akomodasi kabar-kabar yak. Saiya rela banget jadi babu ngelap sepatu asal dapet nyelam dua apa tiga kali di sana, okeh? Heheheh.

Rombongan dia akhirnya harus berangkat tugas lagi (dan check out hotel) pagi itu. Jam sembilan lewat dikit kami sudah saling mengucap kata perpisahan, ambil foto buat sekedar update DP, trus mereka lanjut jalan. Saya sama Mbex juga pelan-pelan mulai merambah jalanan lagi, nice and slow, nggak ada keburunya. Keburu kemana orang kami nggak tau wilayah. Paling jauh saya cuma sampe sekitar Klui dan Mbex malah belum pernah ke sini sama sekali.

Mbex dan vespa pose di depan Art Market, masih di sekitar Senggigi, Lombok

Mbex dan vespa pose di depan Art Market, masih di sekitar Senggigi, Lombok

Dari hotel kami mengarah ke Mangsit, naik vespa. Seperti biasa akhirnya beberapa opsi yang tadi pagi sempat dibahas waktu sarapan diputuskan di atas roda: Gunung Rinjani. Kami sempat tanya-tanya guide rombongan Najih arah ke Senaru yang jadi basecamp-nya pendaki Rinjani. Dibilang ikut jalan aja, lurus. Kami cek peta di Google Maps ternyata lumayan jauh dari Senggigi. Kita nggak bawa ban serep ini, plus vespa kalo dibawa kenceng dikit aja langsung ngunci. Penyakit sejak ganti seher belum sembuh juga. Sepertinya alam sudah mengisyaratkan bahwa jalan-jalan kali ini harus pelan dan santai :berbusa:

Baru setengah sepuluh-an pagi tapi matahari udah terik. Panas menyengat. Saya yang coklat-tua aja sampe mikir, apa bakal jadi hitam-legam kena matahari? Tapi tetep, kalo foto-foto jaket dilepas biar keliatan lebih ‘gagah’. Eh. Ga ngaruh.

Ngomong-ngomong soal foto, Lombok ini bisa bikin memori kamera habis sampe kurang-kurang. Tempatnya buaguuuss banget. Jalan aspal yang lewat utara pulau ini halus, belok-belok, naik turun, banyak pohon di kanan-kiri, dan deket banget sama pantai. Banyak spot jalan yang pas di tanjakan atau tikungan bisa melihat pantai luas biru bersih sepi kalo cuma mau foto narsis gak ada yang bakal nge-photobomb di belakang. Nggak kayak liat sunrise di Penanjakan yang foto di mana aja pasti ada orang lain di frame kita. Nggak kayak poto malem-malem di Tugu yang nggak nggak sepi juga walau sudah jam dua pagi. Sepi-pi di sini itu. Untung kita cuma ada kamera hape yang batrenya nggak full. Bisa-bisa kami bikin lip sync Keong Racun dulu kalo ada kamera bagus waktu itu. Itu hobi mbex nomer #23: lip sync. Catat ya, para penggemar mbex. Kalo mau pedekate sama dia, ajakin ke tempat karaoke aja. Sehari dua hari, tembak, yakin dia langsung mau. Ngookk..

Dan ternyata eh ternyata rombongan bos Najih yang pake Innova itu sempat brenti buat poto-poto juga. Bruakakakak. Kirain kalo udah pake mobil ga bakal brenti gitu, ga taunya sama aja kita terheran-heran sama keren dan indahnya Lombok. Yasudah saya juga sempat kembali jadi tukang poto mereka. Jepret-jepret. Ya kamera DSLR ya BB ya iPhone. Trus kami say good bye (lagi) meluncur kembali ke jalanan sepi di Lombok Barat.

Ini baru salah satu pemandangan pantai dari kelokan jalan sepanjang Senggigi - Pemenang, Kabupaten Lombok. Masih banyak spot lain yg tak kalah indah.

Ini baru salah satu pemandangan pantai dari kelokan jalan sepanjang Senggigi – Pemenang, Kabupaten Lombok. Masih banyak spot lain yg tak kalah indah.

Pelan tapi pasti kami udah sampe di Pemenang. Perempatan pemenang ini kalo ke kiri sampe ke Bangsal, tempat penyeberangan ke Gili Trawangan. Kami masih lanjut saja. Sekitar satu jam dari Pemenang vespa diistirahatkan supaya nggak kepanasan. Kebetulan berentinya pas di depan tukang duren. Kebetulan juga pas nawar-nawar harganya masih masuk akal. Yasudah kita makan duren dulu. Mengkambinghitamkan vespa cuma untuk dua butir durian. Cih. Manusia macam apa kami ini :v

Demam virus 'lokal' bikin Mbek setuju buat nyobain durian Lombok. Nggak kalah enak sama durian awul-awul Jl. Malboro, Denpasar

Demam virus ‘lokal’ bikin Mbek setuju buat nyobain durian Lombok. Nggak kalah enak sama durian awul-awul Jl. Malboro, Denpasar

Setengah dua belas siang Gn. Rinjani jadi kelihatan lebih dekat. Di samping jalan raya sudah ada kantor BTN Gunung Rinjani, Wilayah I. Apa kami bakal beneran sampai basecamp Senaru? Vespanya kuat sampe sana boncengan? Well, kita lanjut jalan saja.

Melihat tulisan Segenter Traditional Village kami memutuskan untuk putar balik dan barang sejenak mampir ke tempat tersebut dengan harapan bakal lihat rumah-rumah tradisional Sasak dan sedikit kehidupan masyarakatnya. Perkampungannya ternyata sepi, bisa jadi karena kami datang di tengah hari. Kesannya gersang dan kekurangan air. Di jalan tadi beberapa wanita kelihatan lagi ngambil air dari sumber di dasar sungai berbatu. Atau mereka adalah para pemecah batu seperti orang-orang Srumbung, Magelang?

Dua anak kecil menghampiri kami dengan tetap menjaga jarak. Senyum kami masih kurang tulus, tak mampu menjangkau hati bersih dua mahluk tuhan tersebut. Tak berlama-lama vespa terarah balik ke jalan besar dan melanjutkan tujuan.

Dibutuhkan perjuangan berat saat jalan mulai nanjak tak berhenti. Satu jam kemudian perjalanan kami hampir mencapai akhirnya saat gapura Desa Senaru terlewati. Senaru bro! Nama yang sejak saya masih sekolah dulu diucap oleh para pendaki ‘suci’ yang sudah berhasil menginjakkan kaki di Gunung Rinjani. Senaru yang di itinerary para pejalan merupakan secercah cahaya di ujung jalan itu akhirnya bisa tercapai dengan vespa boncengan berdua dari pulau seberang. Sepertinya mesin juga ikut gembira. Di kecepatan tak lebih dari 40 km/jam dia nggak mau ngancing. Nggak mogok. Nggak kena paku juga. Alhamdulillah.

Tepat jam 4 sore Waktu Indonesia Tengah, tanggal 31 Maret 2014, saya dan Mbex duduk di bale-bale di depan basecamp Taman Nasional Gunung Rinjani. Masih perlu berjam-jam di atas roda untuk kembali mencapai Mataram dan Lembar serta empat jam lagi kalau mau ke Bali tetapi yang nanti dipikir nanti saja.

Seperti gunung lainnya, semua bermula dari basecamp. Taman Nasional Gunung Rinjani juga. Ini foto di depan basecamp di Senaru.

Seperti gunung lainnya, semua bermula dari basecamp. Taman Nasional Gunung Rinjani juga. Ini foto di depan basecamp di Senaru.

Tiga orang pendaki asal Medan menemani sore kami, ditemani suguhan cerita tentang penelitian mereka di Pulau Komodo. Seekor anjing datang mendekat, tersenyum; keramahan khas Indonesia?

———

Lanjutan dari tulisan pertama dan kedua.

Diselesaikan di Sanur, 13 Desember 2014, sejak mulai nulis pada 6 Mei 2014.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *