Motoran Jepara-Jogja-Bali via Jalur Tengah Pulau Jawa Pake Vespa 8


 

Supaya aman dan lancar selama perjalanan beberapa persiapan perlu dilakukan termasuk ganti ban belakang luar dengan yang baru, isi tanki oli samping, bawa kunci-kunci lengkap sampai baca cadangan busi. Maklum tour sendiri dan lumayan jauh.

Supaya aman dan lancar selama perjalanan beberapa persiapan perlu dilakukan termasuk ganti ban belakang luar dengan yang baru, isi tanki oli samping, bawa kunci-kunci lengkap sampai baca cadangan busi. Maklum tour sendiri dan lumayan jauh.

Saya cukup beruntung punya kesempatan buat menjalankan misi satu ini: motoran dari Jawa ke Bali. Bukan sembarang motor karena ini pake vespa. Dan bukan sembarang vespa juga karena yang saya bawa boleh dibilang vespa agak sakit. Contoh sakitnya itu:

  1. Walo Exclusive 2 tahun 91 tapi karena satu dan lain hal masih sering ngancing kalau kepanasan. Ngancing adalah seher terkunci ke liner setelah memuai disebabkan panas. Kalau ngancing ini nggak cepat ditangani bisa-bisa pengendara terbanting ke aspal dalam kecepatan tinggi sebab kendaraan tiba-tiba berhenti/sudden stop. Kecepatan paling banter mungkin 80 km/jam tapi jarang bareng lari sampai segitu dalam waktu lama. Pernah ngancing di perjalanan kemaren? Pernah, tentu saja 🙂
  2. Fork setang kemudi udah nggak center. Selalu terasa berat sebelah, cenderung belok kanan. Buat yang belum biasa bawa vespa ini bakal langsung ngeluh dalam 100 meter pertama. Heheh.

Beban yang dibawa cuma satu carrier 80 liter terisi penuh dan tas daypack tempat laptop. Carrier selama perjalanan selalu nempel di punggung. Kebetulan rak belakang masih kurang tinggi kalau mau dibuat sandaran tas itu.

Daypack nggantung di bawah setang, depan bagasi. Strap dada dipasang juga, supaya stabil dan diam. Dengan posisi ini daypack nggak membebani pundak kecuali kalau pas hujan. Demi keamanan laptop di dalamnya maka daypack harus dibawa di depan dada jika hujan. Setelah dibawa dengan cara itu baru saya pake jas hujan.

Dan kemarin itu kebetulan musim hujan.. hahah. Tentu sering bongkar-pasang daypack di jalan. Tak apa lah.

Nggak ada niat untuk menjadi petualang dengan naik vespa jarak jauh kayak begini. Apa untungnya? Lagi pula saya nggak berafiliasi dengan klub vespa mana pun. Hanya kebetulan ongkos ngirim vespa dari Jogja ke Banyuwangi sudah sebegitu mahalnya sampai nggak masuk akal. Masak dari setasiun Tugu ke Banyuwangi Baru (stasiun di Banyuwangi) motor saja sampai 550 ribu? Itu cuma stasiun-ke-stasiun, nggak diantar kemana-mana. Kalau ditambah satu orang pengendaranya jadi 600 ribu. Terlalu mahal. Jika masih tarif lama, sekitar 350 ribu, mungkin masih tak pikir-pikir. Banyuwangi-Denpasar masih nambah lagi sekitar 100 ribu sudah termasuk ongkos nyebrangnya.

Jomblah-jambleh akhirnya diputuskan untuk naik vespa saja. Lebih irit dan bebas mampir kemana saja. Bensin, setelah kenaikan harga kemarin, diperkirakan bakal habis sekitar 250 ribu sampai Bali, dari Yogyakarta. Setengah harga kalau naik kereta kan? Makanya mending naik vespa saja daripada buang-buang duit untuk transport. Lagi pula saya bakal menyesal seumur hidup kalau kesempatan touring ini terlewatkan. Mungkin bakal sama menyesalnya sebab dulu nggak sempat kenalan dengan mbak jilbab pink di angkringan depan KR. Hahaha. Kisah bodoh itu. Lewat ah!

Perjalanan dimulai hari Jumat siang jam 2 dari kos Bujel, mekanik vespa langganan di Jalan Kaliurang, Jogja. Sudah lebih dari satu jam selepas Jumatan tapi di luar hujan malah tambah deras. Siang hari di Jogja selalu begini sejak kemarin. Untungnya carrier sudah terkondisi untuk menghadapi cuaca yang bagaimanapun termasuk hujan (gerimis, rintik-rintik, hujan besar, oke semua). Di dalam sudah saya kasih trash-bag, alias kantong plastik hitam biasa buat wadah sampah, dan di luar masih dilapisi bag cover bawaan tas.

Diselingi mendung tebal, hujan deras dan bismillahi tawakkaltu saya luncurkan vespa menyusur belakang Pasar Colombo lewat depan Radio Q.

Adios, my bro. Genggaman tangan bro mekanik masih terasa erat. Sudah lama nggak touring sama dia. Kapan-kapan jatah tripmu bakal datang lah. Sekarang aku duluan.

#CobaanPertama datang nggak jauh dari starting point. Tepat di depan UPN jalanan banjir parah. Vespa, entah kenapa, sampai mati. Ini sih nggak parah, I know, karena paling-paling knalpot kemasukan air saja. Nggak pake panik vespa tak pinggirkan di sebuah ruko, slah dikit, hidup dan tak matikan lagi.

Masih dengan bawaan lengkap, tas carrier di belakang, daypack di depan, jas hujan dipakai dan helm terpasang, saya berdiri di samping jalan melihat motor dan mobil yang masuk di jalur roda dua. Asik juga mainan air gini. Orang-orang nonton saya, saya nonton mereka. Win-win lah. Sama-sama senang. Hiburan murah dan murahan ala rider jalanan. Waktu masih tersisa banyak dan itinerary perjalanan ini sepenuhnya terserah saya. Ngapain buru-buru bukan?

Ringroad Jogja tepatnya di depan kampus UPN rupanya sudah jadi langganan banjir saat hujan deras mengguyur. Ini pemandangan dari jalur khusus roda dua.

Ringroad Jogja tepatnya di depan kampus UPN rupanya sudah jadi langganan banjir saat hujan deras mengguyur. Ini pemandangan dari jalur khusus roda dua.

Saat air sudah cukup surut barulah vespa tak nyalakan dan kami mulai menyisir ringroad lagi menuju luar kota. Nggak lupa rem belakang tak cek karena biasanya rem jadi nggak pakem kalau kampas barusan kena air. Belum sampai Bandara Adi Sucipto rem belakang sudah kembali normal. Rem depan? Rem depan apa? Wong kabelnya aja ndak dipasang kok :p

Jalur Jogja-Banyuwangi ini nggak baru sama sekali sih buat saya. Beberapa tahun sebelumnya sambil menemani kawan ke Sempu di Malang selatan saya sempat merasakan jalur tengah Jawa. Bertahun-tahun sebelum itu juga pernah ke Probolinggo ngantar tamu liburan ke Bromo. Di antara lupa-lupa-ingat dan berbekal peta Google Maps di hape vespa meluncur tenang ditemani mobil pribadi, truk dan banyak roda dua lainnya.

Klaten dan Kartasura (atau Kartosuro?) nggak ada yang spesial selain beberapa polisi tidur cukup tinggi di depan Kandang Menjangan. Harusnya untuk jalan antarprovinsi nggak segitu tinggi lah jendulannya. Nggak cuma satu e, itu beberapa jendulan berjejer rapi tidur di tengah jalan. Lumayan kaget tapi nggak sampai vespa kenapa-kenapa.

Kartasura-Karanganyar? Ada #CobaanKedua di etape ini. Dengan pedenya saya ambil jalur kiri di sebuah perempatan, berharap munculnya di jalur lingkar luar Solo dan tembus Sragen. Nyatanya? Saya cuma masuk kompleks UNS, lewat samping tempat pembuangan sampah yang berair karna hujan deras, dan muncul di samping Taman Jurug. Dekat banget. Hahahah. Kopet! <<– jangan cari kata ini di bagian Gambar di Google.

Di perbatasan Jawa Tengah saya berhenti sebentar untuk ambil foto. Hari masih sore dan cuaca cukup bagus, hanya saja begitu masuk Jawa Timur hujan langsung menyambut.

Di perbatasan Jawa Tengah saya berhenti sebentar untuk ambil foto. Hari masih sore dan cuaca cukup bagus, hanya saja begitu masuk Jawa Timur hujan langsung menyambut.

Karanganyar-Sragen-Ngawi. Terang-terang-hujan. Sempat berhenti di depan Gontor Putri: Kulliyyatul Banat, Jami’atu Darus Salam Al Islamiyyah. What’s so special? Nggak tahu. Beberapa ingatan mendesak ingin keluar tapi kudorong masuk lagi. Ini jalan-jalan, nggak perlu mikir apalagi pusing-pusing. Penting ambil foto saja. (Sekarang baru ingat kenapa pengen ambil foto Gontor Putri: adek temen deketku alumni sini. Bisa dibilang ini kenang-kenangan buat dia).

Dua buah motor matic secara bergantian menyapa lewat klakson sambil mengangkat tangan ke arahku. See? Banyak sodara walau beda bentuknya. Touring sendiri tetep fun kok. Di jalan pasti ada teman, kalau kamu mau kenalan 😀

Sampai sejauh ini vespa masih baik-baik saja. Pengendaranya juga baik-baik, terlindung di balik jaket Bonfire aseli dari awul-awul dan tutup hidung-leher kain pantai suvenir nikahan Diana-Eko. Jawa Tengah sudah terlewati. Kini posisi kami berada di Jawa Timur. Ngomong soal Jawa Timur buat saya nggak bisa lepas dari Pos Polisi di tengah hutan yang pas di tikungan itu. Entah bener entah salah katanya di sana petugasnya terkenal tegas. You melanggar marka garis lurus, you in trouble. Mitos yang sama dengan pos polisi Temanggung yang jaga depan kayu lapis dekat Banaran. Dan saking seriusnya mikir pak polisi liatin garis marka tanpa sadar malah tau-tau sudah di depan pos polisi itu.

Asem! Untung sudah malam plus terhalang mobil. Hahah. Cepat-cepat saya masuk kiri kembali ke jalan yang benar. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Halah. Malah nyanyi.

Nganjuk-Jombang-Mojokerto lancar semua. Dua biker bilang mau ke Jogja buat acara motor mereka. Dapat wanti-wanti kalau Mojokerto tadi hujan deras. Okelah, makasi bro.

Waktu sudah hampir tengah malam waktu vespa masuk wilayah Mojokerto. Jalanan tampak baru. Aspal masih mulus-lus dan bersih. Nggak hujan. Alhamdulillah. Di sebuah pom bensin vespa kuhentikan dan ijin sama petugas jaga buat ikut istirahat. Basa Jawa Tengah vs basa Jawa Timur masih bisa saling memahami walo grothal-grathul. Pesan sponsor: ngomongo nganggo boso Jowo logatmu dewe. Mereka senang dengar orang jauh ngomong pake Jawa logat berbeda, kita juga senang dengar cara mereka ngobrol. Ga usah gawe boso endonesa. Jik podo-podo paham ae kok. Setelah ngobrol gini gitu akhirnya hari pertama berhenti sampai di situ saja, di Mojokerto. Persis seperti perkiraan itinerary-ku, tapi mundur beberapa jam.

Mojokerto-Bangil-Pasuruan-Probolinggo. Pas adzan subuh vespa sudah siap meluncur lagi. Begitu masuk waktu saya langsung laporan singkat di musholla pom bensin. Setelah itu yang paling berkesan adalah betapa berkabutnya Mojokerto di pagi hari. Kabut pekat nggak terlalu dingin. Tapi pekat, bikin semuanya jadi lebih gelap. Dan polisi. Pagi-pagi segitu saja mobil patroli, dari yang sedan sampai Kijang kapsul, sudah banyak stand-by di jalan. Ngeri juga kalo ada satu yang mendekat trus ngajak saya balapan. Untungnya pak pol pada baek. Saiya aman deh. Hehe.

Beginilah suasana pagi Mojokerto: berkabut tebal. Lebih pagi dari ini kabutnya lebih tebal lagi. Dalam pagi ini juga pak polisi sudah berjaga-jaga. Cool.

Beginilah suasana pagi Mojokerto: berkabut tebal. Lebih pagi dari ini kabutnya lebih tebal lagi. Dalam pagi ini juga pak polisi sudah berjaga-jaga. Cool.

Ini dimana ya? Kalo nggak salah udah lepas Mojokerto mau masuk Pasuruan.

Ini dimana ya? Kalo nggak salah udah lepas Mojokerto mau masuk Pasuruan.

Jam tujuh pagi vespa sudah berada di Probolinggo meluncur ke Besuki dan Situbondo. Kalau papan penunjuk arah yang satu itu nggak ada di sana mungkin cerita perjalanan ini bakal lain. Sialnya, atau untungnya, tulisannya besar-besar ada tanda panahnya. Tulisannya begini: Wisata Bromo.

Setelah galau yang rasanya sampai setengah jam (padahal cuma kurang dari 5 menit) diputuskan untuk mampir ke Bromo dulu. Hahah. Masih Sabtu pagi, waktu masih banyak. Tak lupa mampir warung buat sarapan dulu, sambil ngecas hape.

“Soko ndi sampean?” tanya mas-mas warung.

“Jogja, mas,” kata saya.

Habis turun Bromo? Nggak, ini baru mau naik. Pake motor? Iya. Nggak capek? Blablabla. Nyam-nyam-nyam. Kenyang.

Bromo. Muncul #CobaanKetiga dengan ban belakang kena paku pas di tanjakan dan kelokan setelah Terminal Tumpang. Untungnya saya temenan sama Bujel. Kena paku sudah nggak panik ato bingung. Menurut Bujel:

Ban pespa nggembos raono obate kecuali diganti nenggon. Begitu ban bocor, ganti di tempat. Nggak bakal ada yg kuat dorong vespa yang bannya bocor.

Carrier turun, jaket lepas, helm lepas. Siapkan kunci T-13, cari-cari batu yang bisa buat ganjal mesin, ganjal, lepas serep, lepas ban belakang, serep masuk, dan nggak ada setengah jam vespa sudah siap jalan lagi. Enak to kalau jalan bawa alat lengkap? Heheh.

Jeep masih lalu lalang nggak putus-putus. Sepertinya lagi banyak pengunjung.

Berhubung perjalanan masih jauh dan lama mulanya ban yang bocor langsung tak tambalkan begitu nemu tukang tambal.

Nah, ini dia tersangka utama yang bikin ban belakang bocor total. Panjang nggak lebih dari enam senti meter, karatan, dan mematikan. Setidaknya mematikan buat ban belakang vespa. Ban Jeep kayaknya ga tembus paku beginian.

Nah, ini dia tersangka utama yang bikin ban belakang bocor total. Panjang nggak lebih dari enam senti meter, karatan, dan mematikan. Setidaknya mematikan buat ban belakang vespa. Ban Jeep kayaknya ga tembus paku beginian.

Namanya juga Bromo. Walau pun masih jauh dari lokasi yang dituju tapi pemandangan sudah bagus aja. Ban belakang boleh bocor, tapi foto-foto tetap jalan.

Namanya juga Bromo. Walau pun masih jauh dari lokasi yang dituju tapi pemandangan sudah bagus aja. Ban belakang boleh bocor, tapi foto-foto tetap jalan.

Bromo di tengah gurun pasir, masih seindah dulu. Lamat-lamat juga terlihat beberapa kendaraan masih parkir di belakang pura. Mungkin menunggu tamu yang naik ke bibir kawah.

Bromo di tengah gurun pasir, masih seindah dulu. Lamat-lamat juga terlihat beberapa kendaraan masih parkir di belakang pura. Mungkin menunggu tamu yang naik ke bibir kawah.

Bromo masih seindah dulu. Lautan pasirnya, Jeep-nya, kuda, kawah dan pura. Sayang waktu tak cukup banyak untuk saya menuju ke Penanjakan. Itu spot bagus buat ambil view Bromo.

Dekat-dekat jam dua belas siang vespa berbalik arah menuju kota selanjutnya. CU next time Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. You rock!

Bromo-Probolinggo-Besuki-Situbondo-Ketapang.

Setelah Situbondo muncul tugu 1000 km Anyer – Panarukan. Kamu baca sejarah? Ribuan orang jadi korban untuk pembangunan jalan trans Jawa ini. Jangan lupakan itu.

Sebuah matic plat H meluncur menjauhi tugu saat vespa mendekat. Mungkin mereka barusan pulang dari acara di Bali. Mungkin mereka sedang libur kuliah dan memutuskan untuk jalan-jalan dulu pake mbolos sehari dua. Keputusan yang tepat. Jangan sampai kuliah mengganggu jalan-jalan. #eh..

Jalan sepanjang kurang lebih 1000 kilometer bikinan Gubernur Herman Willem Daendels ini menyimpan banyak sejarah. Bacalah. Di internet banyak literaturnya. Know where you are.

Jalan sepanjang kurang lebih 1000 kilometer bikinan Gubernur Herman Willem Daendels ini menyimpan banyak sejarah. Bacalah. Di internet banyak literaturnya. Know where you are.

Alun-alun Situbondo bisa jadi contoh yang baik buat Bapak/Ibu Bupati/Walikota daerah lain. Di sana ada bangunan berbentuk joglo terbuka berlantai keramik bersih, terang dengan lampu-lampu putih dan ada wifi gratisnya. Udah itu aja? Tentu tidak. Tahu kalau bakal didatangi banyak orang maka di joglo ini juga dikasih banyak colokan listrik bebas pakai untuk pengunjung. Mau wifian sampai pagi atau numpang ngecas hape kayak saya dipersilakan saja. Jhos kan? Jhos lah. Suwun, Pak Bupati Situbondo. Ndek wingi kula sampun merasakan fasilitas publik di wilayah kerja sampean. Mantap.

Penampakan terang benderang ini menarik saya untuk mendekat. Persis seperti laron yang terheran-heran melihat cahaya lampu di malam hari. Saya terperangkap di sini hampir satu jam lamanya. Sweet trap.

Penampakan terang benderang ini menarik saya untuk mendekat. Persis seperti laron yang terheran-heran melihat cahaya lampu di malam hari. Saya terperangkap di sini hampir satu jam lamanya. Sweet trap.

Selepas Situbondo saya dan vespa masuk ke gelapnya Taman Nasional Baluran. Jalannya lebaaarr dan halus. Dua trus gandeng jalan berdampingan di satu jalur saja masih ada cukup tempat buat vespa nyempil dan nyalip. Tapi yaitu, gelap. Dalam gelap ini ternyata langit kelihatan lebih cerah. Bintang terang tampak jelas tak tertutup awan. Ratusan. Mungkin ribuan. Atau ratusan ribu? Jutaan? Wow keren. Kebayang malam-malam camping di Baluran dan lihat bintang-bintang ini di antara lolongan serigala. Pasti mantap. Auuuuuu…!! << suara serigala, biar dramatis.

Makanya begitu keluar hutan melewati depan kantor Taman Nasional Baluran segera saya cari tempat untuk berteduh menghabiskan malam supaya besok pagi-pagi bisa mampir Taman Nasional Baluran. Masjid Baitur Rohmah di Alas Buluh, Wongsorejo menjawab lantang: Sinio, wahai pejalan! Tak penuhi kebutuhanmu!

Kalau mayoritas masjid menyediakan fasilitas kayak gini pasti keren banget. Musafir bisa istirahat dengan tenang dan nyaman plus masjid jadi punya jama'ah ekstra.

Kalau mayoritas masjid menyediakan fasilitas kayak gini pasti keren banget. Musafir bisa istirahat dengan tenang dan nyaman plus masjid jadi punya jama’ah ekstra.

Dua buah kamar besar dikhususkan untuk tempat istirahat ada di sana. Malah dilarang keras istirahat di masjid. Pakailah dua kamar itu. Bebas, yang mana saja boleh. Taroh barangmu di sana. Itu colokan listrik di luar, pakai saja.

Malam itu, beralas karpet biru, bantal empuk dan perlindungan dari angin serta hujan saya menutup Sabtu. Semoga besok Baluran juga berbaik hati seperti Masjid Baitur Rohmah.

Minggu pagi dan Baluran. Seekor merak terbang melintasi jalan yang membelah hutan. Keren! Habis itu dia jalan santai di balik gerumbul, masih terlihat dari jalan. Mungkin mencari serangga buat sarapan?

Seekor rusa mengawasiku dari bawah rimbun dedaunan. Curiga jangan-jangan saya ikut makan dedaunan yang jadi makanannya.

Sama seperti harapan. Baluran memang berbaik hati padaku.

Ring 10 roda vespa sepertinya nggak cocok buat jalanan di dalam Taman Nasional Baluran yang berupa aspal lepas. Petugas terlihat memakai sebangsa GL modif untuk lalu lalang di kawasan ini.

Ring 10 roda vespa sepertinya nggak cocok buat jalanan di dalam Taman Nasional Baluran yang berupa aspal lepas. Petugas terlihat memakai sebangsa GL modif untuk lalu lalang di kawasan ini.

Baluran-Ketapang-Gilimanuk-Bali. Aku pernah sampai di Gilimanuk dari Denpasar, jadi perjalanan Gilimanuk-Sanur nggak begitu kerasa. Cuman tadi pas di ferry penyeberangan si Slamet minta foto jempol kakiku. Yawes tak kirimi to. Wong cuma foto jempol kaki aja. Sip to jempolku Met? Hahahah.

Foto ini diambil untuk menghormati kawan saya si Slamet. Jempol sikil plus sego bungkus. Dijamin ora mambu karena jempolku resikan. Sering adus.

Foto ini diambil untuk menghormati kawan saya si Slamet. Jempol sikil plus sego bungkus. Dijamin ora mambu karena jempolku resikan. Sering adus.

Hari sudah minggu siang saat vespa mencapai Ketapang. Tiket motor plus pengendaranya sekarang sebesar 25 ribu rupiah. Tinggal ikuti jalur saja yang mengarah ke kapal terdekat. Perjalanan di kapal kurang lebih selama 45 menit, walau si Slamet pernah 3 jam terombang-ambing di sini gara-gara ombak besar. Koe sih, Met.

Hari sudah minggu siang saat vespa mencapai Ketapang. Tiket motor plus pengendaranya sekarang sebesar 25 ribu rupiah. Tinggal ikuti jalur saja yang mengarah ke kapal terdekat. Perjalanan di kapal kurang lebih selama 45 menit, walau si Slamet pernah 3 jam terombang-ambing di sini gara-gara ombak besar. Koe sih, Met.

Beberapa kilometer selepas Gilimanuk panggilan perut membuat saya dan vespa mampir di warung jawa di kilometer 51. Serombongan biker asal Surabaya juga mampir, dalam perjalanan pulang dari Pantai Pandawa. Di sana rupanya acara Honda diadakan. Anniversary.

Nasi-sayur tambah telor, krupuk, tahu pong/tahu goreng, dan minum teh panas. Mantaaapp. Kami ngobrol bareng sambil makan, diiringi rintik hujan bulan Desember.

Kami keluar dari warung bersamaan. Saya ke arah Denpasar, mereka ke Gilimanuk. Tiga CB + satu mega pro, dan saya vespa sendiri. Sepanjang warung itu sampai mendekati Ubung cuaca nggak jelas dengan dominan hujan. Enjoy aja, nggak perlu ngebut apalagi buru-buru.

Jam sembilan malam hari Minggu akhirnya vespa berhenti di Moon Rock, sebelah utara Sanur agak ke timur. Nggak pake capek nggak pake kemrungsung alhamdulillah saya dan vespa selamat tiba tujuan. Vespa kumatikan dan kubiarkan istirahat semalaman penuh. Besok-besok tinggal perjalanan pendek saja di jalanan Pulau Dewata.

—-

Moon Rock, 14-15 Dec 2014

Asik to jalan-jalan ku? Gimana, kamu pengen ngetrip juga? Good luck. Mampirlah ke tempatku kalau lewat Bali.

Saat tulisan ini dibuat saya berencana ngetrip ke Bima bulan Januari nanti, kalau duit cukup. Kan daripada ngimpi ke luar negri mending jalan beneran di negri sendiri?

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 thoughts on “Motoran Jepara-Jogja-Bali via Jalur Tengah Pulau Jawa Pake Vespa

  • suhartou

    mantap broo,

    jadi ingin juga ngetrip lagi nih…salut banget mas dengan vespa jalan2 sendirian jarak jauh lagi.
    sekali lagi mantap 2 jempol bro.

  • Wakijo

    Aku guyu mas moco perjalanan mu.. jian sabar tenan… Dan menginspirasi…. Oli samping e gawe opo mas ?? Entek piro ?? Aku rencana juga mau ke bali, dari kediri,, tpi ga naek vespa… Tapi naik RX King.. mbahe njaluk refreshing mas…

  • Wakijo

    Hbis oli smping berapa mas ?? Cerita mu keren juga mas… Rncana nie mau dri Pacitan ke Denpasar utk bulan maret besok… Beda nya saya bawa rx king sendirian…

  • Muhammad Aminuddin

    Sya juga kepengen kalo kuliah ke jogja perjalanannya naik sepeda motor. Tapi belum tahu rutrnya dari jepara ke jogja deket kampus uin sunan kalijaga. Daerah yang saya tempati (purwomartani).
    Makasih atas waktunya untuk membaca tulisan saya.