Dive Buddy


SCUBA Diving with Buddies in Tulamben, Bali

SCUBA Diving with Buddies in Tulamben, Bali

Buat yang sudah ambil kursus menyelam Open Water pasti ngerti apa itu Dive Buddy atausering disingkat buddy saja. Buddy diartikan sebagai teman, pendamping atau partner, yaitu orang lain yang bersama kita dalam suatu penyelaman. Bisa siapa saja dan biasanya berpasangan. Dalam recreational diving dive buddy ini penting sekali sehingga keluar petuah ‘Never dive alone‘. Kurang tahu juga apa konsep ini dipakai di technical diving tetapi untuk kelas recreational diving prinsip Never dive alone ini mengharuskan penyelam mengajak paling tidak satu orang penyelam lagi dalam trip-nya.

Walaupun bingkainya tetap recreational diving alias menyelam untuk senang-senang (bukan untuk membangun dermaga, memasang kabel bawah laut, dsb) kenapa harus bawa seorang lagi sebagai teman? Pertama, menyelam adalah berada di lingkungan yang tidak biasa kita tinggali. Seberapapun seringnya seorang instruktur menyelam, sekalipun dia pemegang PRO 5000 Platinum, tetap dia lahir dan besar di darat serta sebagian besar hidupnya dihabiskan di darat. Artinya, laut merupakan daerah baru. Jangankan di laut, di darat pun, di daerah yang sudah kita kenal pun, hal-hal yang tak diharapkan selalu bisa terjadi (keserempet mobil, kesandung batu, dikejar anjing, dsb). Di laut, kalau ada kejadian apa-apa, dive buddy ini yang berfungsi sebagai penolong. Kelilit senar pancing? Ada buddy. Kaget liat kapal selam lewat? Buddy bisa ngetawain. Posisinya saling menguntungkan lah. A jadi dive buddy B, dan B juga jadi dive buddy A. Keduanya saling mengawasi sambil having fun menyelam. Sedikit banyak saling mengolok juga sih.

Tapi memang ada apa saja di bawah air sana? O banyak. Visibility berkurang, misalnya. Tiba-tiba ada up-current atau down-current, kehilangan orientasi, kebawa arus menjauh dari lokasi awal, menemukan obyek baru dan nggak tau harus gimana, dan lain-lain. Dengan adanya dive buddy jadi ada dua otak untuk mengatasi setiap kemungkinan yg ada. Semoga nggak dua-duanya oon dan malah bingung berdua..

Kedua, diving bergantung pada alat. Beberapa alat utama seperti regulator, BCD, pemberat, fin dan dive computer semuanya bisa mengalami masalah di bawah sana. Di darat bisa jadi semua alat sudah dicek oleh teknisi sebelum dipakai turun, tetapi namanya juga alat masih saja ada kemungkinan malfunction juga suatu saat. Apa yg terjadi kalau tiba-tiba SPG ‘meledak’ dan udara keluar semua? Bagaimana jika regulator mengalami freeflow? Atau kalau SPG freezing gimana ngatasinya? Selain bisa membantu mengatasi masalah dive buddy bisa juga mencegah sebelum kejadian, di air maupun di darat.

Ketiga, dive buddy berguna untuk mengoreksi ‘human error‘ yang dilakukan diri sendiri. Ketut menyelam sambil bawa kamera buat cari gambar untuk diikutkan di kontes fotografi underwater, pakai tabung biasa, bukan nitrox. Dia menyelam dengan Michael, yang jadi guide. Dua-duanya sama-sama sudah jam terbang di atas 100 log. Karena sempat ketemu arus, konsumsi udara jadi cepat berkurang, terutama buat Ketut. Saat menemukan obyek yg menarik, Ketut ngasih kode kalau harus ngambil beberapa gambar dulu walau udara menipis. Michael lalu standby di dekat Ketut sambil terus mengawasi tekanan udaranya dan udara buddy-nya. Penyelaman berjalan mulus dengan akhirnya Michael berbagi udara dengan Ketut untuk safety stop-nya. Dua-duanya sampai di permukaan dengan udara hampir habis. Kalau tidak membawa buddy, bisa jadi Ketut nggak bisa ambil gambar karena dia harus punya cukup cadangan udara buat naik. See? Ini baru kasus sederhana.

Contoh pentingnya dive buddy cukup tiga saja ya. Lain-lainnya kita bahas di lain kesempatan. Saya mau nyebur dulu *byuuurrr* dan naik lagi.

Rupanya treatment untuk menikmati dunia bawah air berbeda jauh dengan atas air. Kalau dulu mau naik Merapi tinggal pergi ke basecamp dan naik kapan pun kalau sudah ready (baik ada teman atau pun nggak), di laut harus ada teman dulu baru turun. Kalau di gunung biayanya lumayan murah, di laut apa-apanya cukup mahal. Hahah.

Katakan carrier kualiatas medium ukuran 65lt harganya 800 ribu, tambah kompor dan nesting 500 ribu, matras dan sleeping bag 300 ribu, tenda 500 ribu (total sekitar 2,1 juta) plus perbekalan sesuai lamanya trip saja sudah bisa camping paling tidak semalam dua hari. Bandingkan dengan diving yang BCD + regulator bekas saja bisa mencapai 5 juta. Belum lagi mask, fin, wetsuit, belt + weight, sewa tanki/isi tanki. Untuk peralatan saja bisa sampai 8 jutaan. Wiuuuhh.. lumayan kan?

Tapi seperti trip ke gunung, trip diving juga bisa disiasati agar budget menurun tajam. Ada lah caranya, tergantung kreatifitas masing-masing. Jangan sampai harga mahal jadi penghambat niat. Selalu ada jalan bukan? Saya buktinya. Ga pake kaya tapi sesekali tetep bisa diving. Wkwkwkwk.

One thing for sure, selalu lebih aman kalau jalan dengan buddy di trip kita. Mau ngajak saya nyebur? Japri aja lah, kita atur jadwal (dan anggaran) hahahah.

[youtube width=”640″ height=”505″]https://www.youtube.com/watch?v=E_CgK6iMB4g[/youtube]

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *