Berbahaya Tapi Fun: Hati-hati Bermain Spearfishing 2


spearfishing in bali

spearfishing in bali

Sesi Pertama

Belum lama ini saya ada hobi baru di air yaitu spearfishing (disingkat SF saja ya). Kebetulan ada temannya teman yang BU melepas koleksi harpoon-nya dan saya dapat satu. Waktu itu banget banget saya super excited. Alat lain, seperti biasa, pinjam kantor. Hehe.

Awal-awal turun cuma sendirian, nggak ada buddy. Nggak ada temen buat turun. CumanĀ  karena lokasinya sudah dikasi tau sama Bli, si senior yang udah berhenti mainan SF, tetap saja turun. Tiga hari pertama jarak pandang air jelek banget sampai-sampai ujung harpoon kalo nggak bisa kelihatan. Keruh pake parah. Hanya karena semangat ’45 aja yang bikin saya tetap ke air. Kalo sekarang kondisi air kayak gitu jelas mending diam di atas nunggu sampai bening. Hahahaha.

Di tiga hari pertama itu Bli kadang nungguin di pinggiran. Setelah naik ke darat ada evaluasi kecil-kecilan dan ada masukan ini itu.

“Kamu masuk ke airnya kurang bagus. Kulihat kakimu masih kecipak kecipuk pas mau turunnya,”

“Kamu renang mendatar lalu begini..” dengan jari tangannya Bli mendemonstrasikan cara entry yang pake badan ditekuk dan kaki diangkat. Well, I read that somewhere sometime ago. But I forgot. Hahahah.

Tetapi selalu ditekankan bahwa nggak perlu ke tempat dalam buat cari ikan, tunggu saja di spot-spot yang dia bilang. Dan saya mengikuti saran dia. Sejauh ini belum ada hasil signifikan tetapi karena SF juga cuma sekedar hobi percabangan dari mainan air jadinya nggak terlalu masalah buatku.

Dan yang paling penting adalah bawa buddy kalo ke air. Demi keamanan, katanya. Mau sih, tapi sama siapa?

Beberapa kali main ke tempatnya Bli akhirnya aku ketemu sama temennya yang sudah lebih lama berguru. Namanya Agus dan Iwan, bukan nama asli. Dua cowok dari Sumba ini gampang diajak ngobrol dan tak butuh waktu lama buat kami jadi temen. Dua-duanya masih kuliah di Bali sini, semester awal-awal. Kita tukeran nomer hape supaya, kata Bli, bisa saling ngajak kalau lagi mau ke laut.

Oke, kataku. Lebih tenang ada teman waktu di laut.

Dari beberapa kali pertemuan sesudah di rumah itu aku tahu kalau Iwan nggak turun ke air, cuma Agus aja. Kenapa cuma Agus, I don’t know, mungkin nggak bisa renang atau semacamnya. Tapi jauh sebelum Bli berhenti dari dunia SF dia sering ngajak Agus turun ke laut cari ikan. “Awalnya hanya disuruh ngelihat saja dari permukaan tanpa sama sekali nyentuh harpoon. Memperhatikan gimana cara dia gini gitu,” cerita Agus suatu hari.

Bli memang terkenal sebagai pencetak SF handal dan perhatian sama murid-muridnya. Dari beberapa sumber tersirat kabar kalau dia itu among the pioneers in SF di sekitaran Serangan sini. Saya jadi tambah kagum sama Bli. Dan Agus cukup beruntung masih mengalami masa-masa keemasan Bli. Aku malah nggak sempat dapat pelatihan langsung kayak dia karena Bli sudah putus hubungan sama nyemplung laut, sama sekali. Kalau mau cari ikan hanya lewat mancing saja, pun dari darat, nggak sampai masuk-masuk air.

Walau nggak belajar langsung untungnya tempat kerjaku berhubungan erat sama laut dan banyak materi di kantor yang bisa kubaca-baca. Teori pemuaian gas, equalizing, apa yang terjadi di dalam telinga, kenapa pilek bikin susah atau tidak bisa equalizing, tekanan dalam air, mask squeeze, dekompresi (DCS), shallow water blackout, chamber, bend, dan lain-lain sudah pernah kubaca. Sebagiannya paham dan pernah mengalami, sebagiannya lagi masih sekedar teori. Kalau ada instruktur lagi nggak ada kerjaan barulah bisa ngobrol-ngobrol nanya ini itu tentang artikel yang kubaca. Belakangan bacaanku nambah lagi yaitu blog atau website tentang spearfishing.

Itu saja modalku. Pegang harpoon betulan bisa dibilang baru kemarin sore karena memang nggak pernah ketemu sama mainan kayak begituan. Bisa gulung tali senar aja hasil nonton dari YouTube. Makanya kalau akhir-akhir ini turun ke laut, pasti teori-teori itu saja yang kupegang, bukan pengalaman bertahun-tahun di antara karang dan air garam.

location to spearfishing in bali

location to spearfishing in bali

Janjian Cari Ikan

Waktu itu Sabtu sore sepulang kerja saat aku sms Agus ngajakin dia ke laut besok paginya. Dia bilang oke tetapi jam 8 baru berangkat dari tempat Bli. Aku bilang bakal duluan saja karena kalau jam 8 baru berangkat bisa-bisa aku telat kerja. Maklum kejar tayang; pagi ke laut, nanti agak siangan masuk kerja sampai malam.

Malam itu aku tidur jam satu lebih dikit dan alarm kupasang sebelum setengah enam pagi. Rencananya: jam 7 pagi sampai jam 9 mainan air, trus pulang, siap-siap dan berangkat kerja sebelum jam 11. Pengalaman yang lalu sih kadang bisa dan kadang telat, cuman singkat kata singkat cerita aku betulan bisa sampai pantai jam 7 pagi di hari Minggu dan Serangan sudah dipenuhi sama orang-orang mancing yang masuk ke air.

Dari pertigaan pinggir pantai yang tembusan dari Tunggaktiying ke Timur (ke arah laut lepas) sudah banyak orang berjejer di dalam air mengacungkan joran. Mereka seperti pancang-pancang bambu yang memagari batas laut dalam dengan bibir pantai. Air laut tenang sekali dan nampak jernih. Tak heran posisi yang tadinya mau aku datangi sudah sesak dipadati pemancing berjarak hanya 10 meteran satu sama lainnya.

Satu-satunya jalan tinggal lurus ke Timur ke lokasi kedua, lokasi yang dulu dibilangin Bli, di sekitar batu besar. Saya suka sekitaran batu besar karena posisinya cukup dangkal dan di sekitar batu biasanya banyak ikan ikan hitam selebar telapak tangan wara wiri bisa dijadikan sasaran. Motor kuparkir di bawah rindang pohon tak jauh dari lokasi tersebut dan mulai unload peralatan. Tak lupa pemanasan juga supaya, hasil pelajaran dari temen-temen Unyil waktu ambil Open Water dulu.

Sebelum 7.15 saya sudah di bibir air lengkap dengan wetsuit, weigh + belt dan lain-lain. Pisau selam tumpul juga ada. Harpoon masih dalam posisi OFF dengan karet belum terpancang. Di laut terlihat penyelam lain dengan pelampung putih biasanya terbuat dari gabus. Dia pencari ikan hias. Di dekatnya ada orang yang lagi pasang perangkap buat udang laut (mirip mantis shrimp) dari bambu yang dibikin jerat. Nah, yang begini yang saya suka: laut tenang dan ada orang di sekitar. Tapi sebenarnya saya malu turun bareng mereka. Malu dikira pemain SF betulan padahal masih total noob.

Air laut dingin betul pagi itu, seperti pas nyelam di Padangbai dan kena arus dingin. Wetsuit 3 mm masih sangat kurang buat bodi tipisku. Visibility juga kurang bagus. Saat harpoon kuacungkan lurus ke depan, ujungnya tak jelas kelihatan.

Airnya nggak keruh coklat kayak adonan lumpur tetapi tetap biru-hijau dengan partikel kecil-kecil nampak di air. Kulihat matahari nggak tertutup awan loh tetapi pandangan tetap nggak tembus jauh di dasar. Aku cuma berani di perairan dangkal saja terutama karenanya. Sesekali kucoba turun di 2 atau 3 meter buat cek ekualisasi telinga sekaligus mencoba melihat-lihat sekitar.

Para pemancing di barat batu besar terlihat pada mengawasiku, pasti dianggap mengusir ikan. Sadar diri akhirnya pelan-pelan aku snorkeling ke timur tetap di perairan dangkal.

Oh ya, tempat yang aku datangi ini berjenis reef dan drop-off. Reef itu di dataran dangkal, lumayan datar, dan drop-off itu perairan dalam. Aku tetap berada di reef, tempat dangkal. Drop-off tepat berada di ujung reef berupa dinding karang alami yang betul-betul turun sampai tak kelihatan dari permukaan. Bayangkan berada di atas gedung bertingkat dan kamu melihat ke bawah dari ujungnya, begitulah drop-off di Serangan. Lumayan scary. Makanya posisiku tak pernah jauh dari ujung reef apalagi dalam kondisi visibility jelek dan air terlalu dingin.

Setelah kurang lebih 45 menit melihat-lihat tanpa sempat sekalipun melepas tembakan saya milih minggir saja. Nggak ada gunanya cari ikan dalam kondisi seperti itu. Walau visibility jadi sedikit lebih baik dalam perjalanan pulang tetapi badan sudah kedinginan agak parah.

Sambil snorkeling kembali ke pantai saya cari rute yang jauh dari pemancing. Tepa selira. Tahu sama tahu. Sama-sama cari ikan ga boleh saling ganggu. Kedua tangan kurapatkan di badan sambil memegang harpoon sementara kaki mengayuh mendorong badan pelan ke depan.

Dalam perjalanan balik ke pinggir itu, di perairan dangkal, saya dapat bonus pemandangan bawah air super keren. Aku seperti burung terbang di atas hutan yang pohonnya bergerak bersama alunan air, visibility sangat jernih, potongan koral-koral berserakan di mana-mana, banyak terdapat ‘alun-alun’ bersih dan luas dengan pepohonan hijau di tepi-tepinya dan sesekali ikan hias memperlihatkan diri di ujung koral. Seperti terbang di atas taman bermainnya ikan laut. Terbayang mereka lari-lari di sekitar tempat itu, mungkin main petak umpet atau gobak sodor tapi buyar gara-gara seekor raksasa terbang di atas tempat mereka main.

Sayang tak bisa lama-lama di sana. Airnya jauh lebih dingin dari pada di sekitar batu besar. Dan saya sudah menggigil.

Pelan-pelan kukayuhkan kaki menuju bibir pantai. Kulepas snorkel, kupasang sandal japit yang terkait di pelampung, lalu jalan ke daratan. Tali kugulung rapi, pelampung kunaikkan dan kubawa ke daratan melewati tebing bebatuan hasil reklamasi yang gagal.

Seorang pria tua nampak duduk sendirian memandang laut. Atau melihat orang mancing? Mungkin sesepuh bapak. Kutaruh peralatan ku dan mendekat, ngobrol dengannya. Darinya mengalir cerita saat dia muda dan masih suka mancing di pantai ini. Dulu orang mancing jarang yang pake pales, kenangnya. Langsung aja gulung di roll. Sekarang semua orang sudah pakai pales.

Jaman sudah berubah, kek. Dan jam masih menunjukkan sembilan kurang banyak. Agus belum kelihatan juga dan para pemancing masih banyak yang berada di air walau pelan-pelan debit sudah bertambah.

The Horror

Belakangan aku baca BBM Bli yang mengabarkan Agus sudah di pantai. Sekitar jam 9 Agus dan Iwan terlihat datang berboncengan. Aku masih di deket bapak tua waktu dia sampai di dekat motorku. Aku pamit nemui teman-teman ku dulu.

Agus sambil nanya-nanya gimana air, dapat apa dan lain-lain langsung keluarkan alat-alatnya, dari minjam Bli. Aku bilang nggak dapat apa-apa, air dingin banget dan visibility di sana nggak terlalu bagus tadi. Dia bilang sekarang pasti bagus dan diam-diam aku juga setuju karena hari semakin siang dan air tetap tenang.

Hanya beberapa menit setelah mereka datang jam di tangan bilang sudah 9.10. Di antara malas turun karena air dingin dan sekarang ada buddy kuputuskan untuk turun sebentar lagi. Maksimal jam 10 harus sudah berada di darat karena dari pantai ke rumah kurang lebih 25 menit. Belum lagi cuci alat dan siap-siap kerja.

Begitu menyentuh air lagi rasanya badan pengen loncat keluar menjauh menuju tempat yang hangat. Airnya dingin banget! Beningnya sih iya, tapi dinginnya juga.

Agus sudah berjarak sekitar 10 meter dariku, atau mungkin lebih. Pelampung merahnya saja yang kelihatan. Orangnya sudah meluncur duluan ke arah ujung reef.

Sambil menikmati pemandangan air dangkal aku paddling mengekor Agus. Jejaknya berupa pasir teraduk di air saja yang kutemukan. Saat kulihat di permukaan dia sudah agak jauh ke depan kelihatan snorkelingnya mencuat, ke arah batu besar.

Harpoon ku masih dalam posisi OFF waktu akhirnya berdekatan sama dia di dekat batu. Dalam visibility yang sedikit lebih baik dari tadi pagi kulihat dia sudah menaikkan ikan selebar lebih dari telapak tanganku. Dia juga cepat saja menusukkan hasil tembakannya ke tusukan ikan di pelampung merah. Nggak pakai lama. Hahaha, memang beda antara yang pro sama abal-abal kayak aku.

Aku sadar ketinggalan sarung tangan waktu mau tarik karet. Pantes tanganku kedinginan. Air sudah nggak terlalu dingin tapi lama-lama pasti selip juga ini tangan kalau nggak ada pelindungnya.

Kali ini aku lihatin cara dia turun dan cara dia ngarah ikan. Nggak belajar sama guru besar boleh lah dapat belajar dari muridnya. Kan begitu.

Tapi rasanya kok nggak istimewa ya? Cara dia turun malah ‘berisik’ menurutku. Nggak mulus halus kayak muridnya Bli yang satu lagi (aku pernah turun sama muridnya Bli yang lain, yang lebih pengalaman dari pada Agus). Kalau boleh dibilang Agus malah ‘asal turun’ saja. Atau memang tak semudah itu turun dengan tenang tanpa banyak pakai tenaga? Nggak tau juga sih tapi tetap kulihatin cara yang dia pakai.

Setelah beberapa menit aku agak menjauh mencari lokasi sendiri. Masih inget pesen Bli kalau SF sangat disarankan untuk bawa buddy akhirnya jarakku sama Agus nggak begitu jauh. Mungkin 20 meter saja. Pelampung merahnya selalu langsung kelihatan begitu aku muncul dari air.

Kami pisah begini mungkin ada 15 menit, atau kurang sedikit. Saat tiba-tiba visibility memburuk dan aku takut sendirian akhirnya pelan-pelan sambil lihat bawah aku bergerak mendekatinya. Visibility berubah di tengah-tengah sesi cari ikan itu udah biasa, nggak heran lagi. Harpoon dalam posisi ON tapi kupegang erat jauh dari mengarah ke badannya. Aku memang nggak terlalu minat cari ikan waktu itu karena sudah kedinginan dulu dan kalau cuma dapat satu atau dua ukuran tanggung juga bakal kerepotan sendiri mengolahnya. Makanya waktu itu walaupun bawa harpoon tapi sebenarnya aku cuma snorkelingan saja. Dan pagi itu sekalipun aku nggak melepas anak panah ke sasaran.

Beberapa kali kudengar suara Agus menembak sasaran. Suaranya panah lepas dari larasnya terdengar cukup keras di dalam air. VVVUUUKK! Kadang seperti ‘ZRUUUKKK!’. Nancep di pasir/koral? Kurang tahu juga karena nggak lihat langsung tetapi dari beberapa kali itu belum ada dia terlihat menambah ikan ke tusukan.

Aku sesekali turun di samping batu besar sambil cari pegangan yang aman buat tangan tanpa pelindung. Tiap kali udah kerasa pengen nafas langsung naik ke permukaan. Terlalu pendek nafasku memang jadinya ikan belum ada yang mendekat dan aku sudah harus ambil nafas lagi.

Suatu saat setelah kami pisah mungkin 5 menit Agus tak kelihatan di permukaan. Mungkin masih di bawah. Aku mendekat saja ke balik batu. Air sudah lumayan jernih lagi saat itu dan di sekitar 6 meter ke depan itulah pemandangan paling horor sepanjang spearfishing tersaji di depan mata: kulihat Agus duduk di dasar dalam dengan tangan tak memegang apapun dengan kedua kaki dan badan agak terapung. Bokong tetap menempel di dasar.

Satu detik. Mungkin dia sedang menikmati air.

Satu detik sekian. Tapi dia nggak gerak sama sekali.

Satu detik sekian sekian. Dia pasti tenggelam! Anjrit!

Kukayuh fins ku sekuat tenaga ke arahnya. Dari satu meter saja kelihatan matanya melotot membelalak dibalik mask kaca pisah yang dipakainya. Mulutnya kebiruan tapi masih menggigit mouthpiece snorkel tetapi lehernya kelihatan sedang berusaha menghirup udara yang tak didapatnya. FAAKK!!!

Dari belakang kulingkarkan tangan kananku di badannya dan dengan tangan kiri memegang harpoon punyaku langsung kutarik dia ke permukaan.

Matanya masih melotot tapi hidung dan mulutnya sudah di udara. Di atas permukaan air.

1. Mau buang harpoon ku tapi nggak kuikat sama pelampung >> Bisa hanyut di laut
2. Ini kedalaman sekitar 2 meter atau 3 meter. Kami nggak bisa menapak di dasar
3. Aku bakal masuk penjara karena lalai mengawasi buddy dan menyebabkan kematian
4. Dia harus bernafas lagi bagaimanapun caranya
5. Daratan masih (sangat) jauh

Aku menyelam di bawah badannya dan tangan kananku kudorongkan ke atas ke punggungnya supaya dia tetap di permukaan.

Karena visibility sudah bagus saat itulah kelihatan dasar batu besar. Aku ingat kalau batu itu menjulang sampai sering kelihatan sebagian.

Kutarik Agus ke sana dalam posisi telentang dan kutempelkan dia di atas batu (makasih Pak Dika buat latihan Rescue-nya). Untungnya dalam posisi itu, walau ujung batu masih berada di air, tapi hampir separo atas badannya berada di udara terbuka. Tanganku yang kiri memegang batu, dia di depanku, dan tangan kananku memegang batu juga. Kakiku berusaha menjaganya agar tidak melorot ke air.

FAAKK!! Pikirku.

Mulutnya masih megap-megap layaknya mencari udara. Dalam posisi sudah di atas batu itu kulepas maskernya, kupegang di tangah kiri bersama harpoon yang masih ON, lalu aku teriak-teriak manggil namanya.

AGUS!! AGUSS!! WWWOIII!!! SADAR KAMU!!!

AGUSS!! GUUSS!! WWOOOOII!!!!

Sialan! Matanya yang memerah itu menatap langit sambil melotot. Mulutnya masih megap-megap berusaha bernafas. Nggak mungkin kulakukan CPR dalam posisi itu.

Laut seperti membantu beberapa detik proses penyelamatan itu. Semuanya tenang, tak ada kapal lewat dan ombak juga nggak muncul.

Alhamdulillah setelah teriak-teriak beberapa kali akhirnya dia mulai bernafas lagi, ngos-ngosan. Pandangannya masih kosong tetapi dadanya sudah kembang kempis dan mulutnya terbuka mengambil membuang udara.

PEGANGAN BATU GUS!! PEGANGAN BATU!!

KAMU SEKARANG DI ATAS BATU! PEGANGAN BATUUU!!

Masih saja aku teriak di mukanya. Entah dari mana asalnya tapi dalam pikiranku pokoknya dia harus diajak ngomong.

Dia ngos-ngosan lagi sambil melihatku. Bibirnya campu antara biru, merah dan hitam.

Entah kapan lewatnya kapal tetapi ombak mulai datang. Ini ombak dari sisa kapal lewat, bukan ombak angin. Harpoon yang dipakainya keliatan mengambang tak jauh dari tempat kami berlindung.

Dia mulai pegangan ke batu dan bisa menaikkan badan sendiri lebih ke atas lagi.

PEGANGAN BATUU!! PEGANGAANN WOII!!

Saat merah di matanya sudah mulai menghilang aku bilang

PAKAI MASKER KAMU. MASKERNYA KUPEGANG DI TANGAN KIRI.

Dia diam saja.

KAMU PEGANGAN BATU YA! AKU AMBILKAN MASKERMU!

Dia kelihatan memegang batu. Kuambilkan masker dan snorkelnya dan dia menerimanya. Waktu itu juga kubetulin fins fullfoot ku yang hampir lepas karena paddling tak beraturan sejak tadi.

KAMU PEGANGIN PUNYAKU YA. AKU AMBILIN TEMBAK KAMU.

Dia diam saja.

KAMU PEGANGIN DULU YA! JANGAN TURUN! AKU AMBILIN TEMBAK KAMU!

Setelah dia kelihatan betul-betul sadar dan masih duduk di batu akhirnya aku meluncur mengambil harpoon-nya yang sedikit agak ke tengah. Dalam penasaran ku kulihat besi panah berada di dasar tertindih sebongkah koral. Tapi dari atas saja kelihatan kalau itu koral lepas, mungkin terpecah dari induknya. Jadi kenapa Agus bisa tenggelam? Berbagai pertanyaan muncul saat itu tapi kubiarkan sampai sekarang.

Aku tarik tali prusik dari permukaan dan besi panah langsung bisa terangkat. Koral yang menindihnya sudah lepas dan dengan mudah kugulung tali dan besi panah juga terpegang tanpa kesulitan.

Sambil berenang menuju batu aku pasang anak panah ke jalurnya. Pelampung merah ikut tertarik di ujung tali.

AGUS SUDAH TURUN KE AIR WAKTU AKU SELESAI MEMASANG PANAH. KAMPRETT!!

WOOIII!! WOOOOIII!! KITA MINGGIR AJAA!!!

Aku teriak teriak lagi karena terpisah sekitar 10 meter. Sambil telapak tangan ku berkali kali mengarah ke daratan aku teriak ke arahnya.

AGUUSS!! KITA KE DARAT AJA!! KE PINGGIRRR!!

Dia angguk-angguk. Aku paddling pelan ke pinggir sambil sesekali ngawasi Agus.

DAN DIA MALAH SEMPAT MELEPAS TEMBAKAN!! KAMPREEEEEETT!!

Aku tahunya karena dia tau-tau berhenti dan dari dalam air kelihatan sibuk mau memasang panah di harpoon ku tapi nggak bisa karena senarnya ruwet.

Aku deketin dia, kukasih harpoon-nya yang sudah tergulung rapi tapi terposisi OFF dan kuambil harpoon ku. Senarnya yang ruwet kugulung saja seadanya dan sambil memegang besi panahnya kami kembali bergerak ke pinggir.

Agus pelan-pelan menarik pelampung merah di ujung tali lalu mengapung di atasnya.

Diver Tired. Pikirku. Kami sudah di posisi dangkal tapi belum cukup dangkal untuk berdiri makanya kudeketi dia dan salah satu ujung pelampungnya kupegang dengan tangan kiri. Tangan kanan tetap memegang harpoon yang ruwet talinya.

Pelan-pelan kutarik dia ke menuju daratan.

Gerombolan ikan nggak tahu namanya berenang melewati kami. Mungkin Agus nggak nyadar karena dia lagi batuk-batuk di atas pelampung tapi itu ratusan ikan. Majestic schooling of fish. Sisik peraknya gerombolan itu berkilau-kilau di air yang bening.

Dan kami semakin mendekat ke daerah dangkal hingga akhirnya Agus berdiri di air setinggi paha lalu jalan sendiri ke pinggir. Aku beberapa meter tak jauh di belakangnya.

Seorang pemancing memberi isyarat agar aku menyingkir. Kubalas dengan isyarat bahwa kami mau naik ke darat.

EPILOG

Sampai rumah segera kusambar hape dan kutelpon Bli. Aku cerita singkat dan dia langsung menghubungi nomor Agus. Beberapa menit kemudian Bli marah-marah. Teleponnya nggak diangkat sama Agus. Iwan juga nggak bisa dihubungi.

Aku tadi pulang duluan ninggalin Agus dan Iwan di pantai, di dekat motornya. Banyak pemancing juga di tempat kami berpisah. Mungkin dia turun lagi ke air? Katanya sih gitu tapi sku nggak tahu pasti gimana akhirnya.

Yang pasti betisku kencang-kencang saat menelepon Bli dan tangan ku masih gemetaran.

Nggak ada seorang pun yang pengen betulan prakter rescue walau dia sudah latihan. Begitu juga aku.

Terbayang mata melotot dan bibir biru pucat dengan muka seperti menunggu ajal di Pantai Serangan.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “Berbahaya Tapi Fun: Hati-hati Bermain Spearfishing

  • Alexander Tampubolon

    Setelah kejadian itu, masih coba SF lg gak, mas?
    Soal nya saya juga punya pengalaman yg sangat2 menegangkan wkt mau coba SF di pantai balangan..
    teman saya (teman dekat) keseret arus 50 meter dr bibir pantai dan tidak siapapun biasa menolong. Saat itu aku cuma bisa teriak minta tolong dan org2 di pantai itu cuma bisa diam dan melihat. Ya semua sudah pasrah klu dia bakal mati, untung aja pada saat itu sudah jam 6 sore kurang, jd banyak jukung2 nelayan dr pantai jimbaran lewat, naahhh di tolong lah dia sama nelayan yg lewat td itu..
    Mas klu boleh saya jg mau belajar lebih SF sama si Bli. Saya sangat2 tertarik untuk mendalamin SF ini, mas.. Calling2 saya ya, siapa tau saya bisa jd buddy… Ini no saya (hidden)

    • mosoklali Post author

      Halo Alex,
      Salam kenal.

      Setelah itu masih mainan lagi kok. Hehe. Cuma hati-hatinya ditambah lagi. Sekarang karena kesempatan ke lautnya udah berkurang jadi lebih banyak training di darat dulu, otodidak. Banyak petunjuk di internet misalnya tentang relaksasi, packing, keilmuan bawah laut, dll.

      Bli-nya udah stop betulan. Dianya udah janji buat stop jadinya ya nggak pernah lagi turun. Kalo buat nemuin agan sama Bli sebenarnya bisa tp aku nanya dia dulu ya. Siapa tau sibuk.

      Safe dive.