Tentang Plastik


Berapa lama plastik bertahan sampai bisa terurai?

Berapa lama plastik bertahan sampai bisa terurai?

Semakin dipikir semakin terasa jika plastik tak hanya jadi sampah tetapi juga dosa. Ini beneran dan ada dasar penalarannya.

Selama hidup sudah berapa kilo sampah plastik yang kita hasilkan? Plastik kresek buat bawa kangkung dari warung, plastik bening es teh dan tas kreseknya (biasanya beli dua es teh aja minta plastik kresek buat bawa kan?), plastik sisa krupuk seribuan (berapa puluh krupuk yg sudah kamu makan?), kantong Nyam-Nyam dan gelas berisi coklatnya, plastik berlogo toko handphone abis beli HP, sampah bungkus odol, sachet shampoo, bungkus Lifboi, gelas capcin favoritmu, botol air mineral besar atau kecil, botol Kokakola, Sprit atau Pulpi Oren, kantong kuaci, plastik bungkus rokokmu, tempat tisu dan lain sebagainya sudah kayak nggak lepas dari keseharian kita kan?

Kira-kira sampah-sampah itu kemana perginya sekarang? Apa kalau sudah masuk tempat sampah dia bakal menguap kayak kapur barus di pojok-pojok toilet? Apa bakal menghilang seperti bensin yang tumpah di jalan raya? Atau kamu kira bakal ada organisme yang bisa memakan plastik lalu meng-eek-kannya dalam bentuk binatang lucu buat dipiara? Nggak gitu caranya, sobat. Plastik-plastik itu tetap ada di suatu tempat di bumi ini.

Umurmu berapa sekarang? 50 tahun? 70 tahun? Dijamin plastik sampahmu masih utuh dalam bentuknya dulu. Nggak kayak kamu dan aku yang sudah menua dan tak lama lagi bakal terurai tanah. Yakinlah, umur kita itu pendek banget dibanding umur plastik-plastik sisa konsumsi kita.

Tapi begitulah. Plastik yg abadi itu diperlakukan seperti daun. Dibuang sembarangan dianggap alam akan kembali menyerapnya seiring waktu. Dianggap pula seperti buah eek sapi yang bisa dibuat menyuburkan tomat dan cabai.

Oh plastik. Manusia sudah mendewakanmu, mensejajarkanmu dengan ciptaan Sang Pencipta. Bukankah kau sudah bilang pada mereka bahwa kau ini hampir2 abadi? Bukankah molekulmu sudah lantang berteriak bahwa 500 tahun pun kau tetap akan menjadi dirimu yang sama? Tapi kami memang tak pandai berpikir panjang.

Saat berada di puncak gunung tak lupa kami membuka indomi dan membuang bungkus bumbunya di tanah, berharap dua jam kemudian kamu sudah terserap menjadi sari pati tanah. Ketika di laut tak lupa kami lempar bungkus sampoo ke air, semoga dimakan ikan dan keluar dalam bentuk pupuk alami. Kami cinta alam tetapi cinta-cinta tai ayam gitu. Hangat sebentar lalu dingin untuk selamanya. Nggak ada yang mau manasi tai ayam setelah dingin kan?

Atau mungkin yang kulakukan sekarang ini bagian dari ‘menghangatkan tai ayam’ itu. Menghangatkan ingatanmu bahwa plastik tak akan hilang. Tak akan terurai tanah. Tak akan pergi dari muka bumi sekali kau sudah memakainya.

Kalau sudah pada lupa, ada baiknya kuingatkan bahwa:

  • Air minum nggak harus dalam bentuk gelas-gelas kecil 220 mili. Daripada begitu mending beli wadah air yang bagus yang bisa dipakai bertahun-tahun. Wariskan ke anak cucumu kalau perlu, sebagai bentuk pedulimu dengan bumi.
  • Sampoo ada yang bentuknya botol besar. Sampah plastiknya jauh lebih sedikit dari pada beli sachet per sachet. Kecuali ada opsi untuk beli shampoo dengan bawa wadah sendiri kayak di Starbak (kadang-kadang kl lagi promo), membeli sampo botol besar adalah pilihan lebih baik dari pada beli sachet kecil-kecil tapi buanyak.
  • Bawa tas belanja kalau mau belanja. Sayur kangkung, paprika, barang-barang buat stok sebulan dan lainnya bisa masuk ke situ. Nggak perlu mengajak mbak-mbak kasir ikut dalam kejahatan mengedarkan plastik.
  • Itu kalau cuma beli roti sama satu minuman kan bisa masuk kantongmu. Masukin bagasi motor juga bisa. Wong helem aja masuk masak dua barang kecil itu nggak muat?
  • Produkmu jangan melibatkan plastik sebagai pembungkus. Burger, kebab, tela-tela dan lainnya itu bisa pake bungkus lain kan? Kalau perlu minta pelanggan bawa wadah sendiri, nanti harganya lebih murah. Kenapa tidak?

Aku tak pandai menulis dan aku juga tidak sepenuhnya lepas dari plastik, tapi semoga tulisan singkat ini mampu mengingatkan kenyataan bahwa ‘just because you don’t see it, doesn’t mean it’s not there’. Bahwa hanya karena sekarang nggak kelihatan lagi bukan berarti dia sudah ‘hilang’.

Infografi plastik

Infografi plastik

Plastik-plastik itu masih di bumi. Masih gentayangan sampai ratusan tahun ke depan. Cucu dan cicitmu mungkin akan menggali tanah dan menemukan salah satu sampah plastikmu. Seratus tahun lagi pemancing di sungai bisa jadi dapat plastik dan nggak dapat ikan. Ikan-ikan di laut pada mati karena makan plastik, mengiranya sebagai makanan. Kalau banjir datang plastik-plastik itu bakal menyumbat saluran air generasi penerusmu.

Kalau dampaknya seperti ini, bukankah menggunakan plastik berarti menambah dosa? Sudahkah kita bertobat?

Hanya kita dan Tuhan yang tahu.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *