Naik Vespa ke Gunung Bromo dari Bali – Epic Trip


Liburan Nyepi trus 24 jam penuh tinggal di kamar bingungnya tu di sini (sambil ngelus-elus Vespa). Buat buruh angkat junjung macam saya ini 24 jam harus dimanfaatkan sebisanya buat jalan-jalan kalo bisa yang ‘rasa’nya bakal nempel terus sampai berbulan-bulan ke depan. Supaya nggak pengen jalan-jalan lagi, gitu. Kan susah cari waktu karena libur seminggunya cuma sekali aja (sedih..)

Next. Sedihnya lain kali aja, di tulisan yang lain. Kapan2 cerita soal ‘sedih’nya kerjaan saya yang angkat junjung tanki dan coolbox ke mobil (huhuhu).

Jadi sebelum 20 Maret 2015 sudah ada kontak sama temen dari Jogja, curhat kalo ada waktu kosong 2 hari buat jalan. Dia juga belum pernah ke Bali tapi nggak pengen juga ‘sekedar’ nongkrong di kos nungguin pecalang buka jalan keesokan paginya. Opsi pertamanya jalan ke Lombok kalau tgl 20 malam dia sudah di Bali. Rencananya kami langsung meluncur ke Padangbai dan naik ferry nyebrang ke sebelah.

Pilihan kedua adalah menuju ke salah satu daerah di Jawa Timur sana buat antisipasi jangan-jangan malam itu penyeberangan bakal ditutup dalam rangka menyambut Nyepi. 21 Maret itu kan hari H Nyepi-nya, makanya terdengar kabar bahwa tanggal 20 malem pelabuhan sudah tutup dari arus menuju Bali. Ngeri juga kalau jalan rencana pertama karena Gilimanuk (penyeberangan Jawa – Bali yang terposisi di sisi Bali) ke Denpasar saja pake kendaraan umum hampir 4 jam, dan temen ku datang jam setengah sembilanan-an di Banyuwangi Baru. Belum ditambah 1 jam lagi menuju Padangbai. Belum malam itu bakal ada pawai Ogoh-ogoh di sepanjang jalan yang pasti bikin macet. Semua juga dengan asumsi kereta datang tepat waktu dan ada bis yang langsung jalan.

Mengambil amannya diputuskan untuk membolang di Jawa Timur saja. Venue-nya: Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan lebih spesifiknya di Gunung Bromo-nya.

Kendaraan perang tetep pakai Vespa Exclusive 1998 yang buat harian itu. Dan sore saat orang-orang bersiap menutup jalan untuk arak-arakan Ogoh-ogoh saya sudah meluncur membelah Denpasar menuju Gilimanuk. Jaket bawa dua, pake celana jins buat antisipasi perjalanan jarak jauh, bawa headlamp, jas hujan dua biji, sepatu dan sendal semua sudah ready.

Beberapa titik jalan malah agak sepi, di luar dugaan, tapi beberapa di antaranya malah sudah ditutup. Padahal maghrib aja belum dan posisi masih di dalam kota. Mendekati Terminal Ubung dan seterusnya terlihat arus pengendara keluar kota cukup banyak. Gampang lah nandainnya. Kalau boncengan pake sepatu dan kaos kaki, pake masker, jaket tebal, bawa tas, kemungkinan besarnya bakal nyebrang ke Jawa menghindari Nyepi di sini.

Sesekali juga terlihat Vespa membaur di ramainya jalan. Kadang satu kendaraan, kadang dua atau lebih. Nggak jauh dari Ubung terlihat Vespa Sprint plat W juga meluncur ke arah luar kota. Yang bawa cowok-cowok seumuran saya. Hahaha. Nggak sih, lebih muda lagi.

Saya salamin ‘tet-tot’ ala Vespa dulu baru melaju di depan. Etika sopan sesama pengendara, gitu.

Mendekati terminal Mengwi lalu lintas tambah padat. Beberapa pecalang dan polisi sudah berada di jalan mengatur lalin dan sepertinya mempersiapkan jalan. Sempat heran juga kalau malam Nyepi bisa seramai ini. Kupikir nggak sampai merambah jalan-jalan utama tapi nyatanya salah (sekarang baru ingat kalau jalan bypass ngurah rai deket tempatku juga ditutup kalau lagi pawai ogoh-ogoh).

Sambil merambat pelan nampak dua Vespa sedang berjalan bersama, dipimpin vespa ber-sespan dengan dua orang pengendaranya. Karena masih sore saya buntutin saja itu vespa, cukup jauh sampai lampu merah sebelum kami sempat bertukar sapa. Tak lain yang nyetir adalah mas anu (lupa namanya), dulu sempat kerja sama Cak Irul yang punya bengkel dekat tempat kerjaku. Mereka dalam perjalanan balik ke Jawa Timur setelah main di Bali beberapa waktu.

Berempat kami konvoi sepanjang jalan. Mas sespan dan temennya, saya, ditambah Hendi si Sprint plat W yang ikutan nempel ke rombongan. Ditambah satu Mio temennya Hendi nding. Jadinya Vespa 4 plus 1 Mio. Harus menikmati jalan kan? Dan Bromo nggak bakal kemana.

Di sekitar Tabanan ada sedikit trobel. Sespan overheat dan hilang tenaga. Masnya cerita kalau vespanya baru ganti buring dan masih belum jadi betul mesinnya. Mereka harus sesekali berhenti mendinginkan mesin, jalan, dan kalau kepanasan ya berhenti lagi. Kami ditawari untuk duluan saja.

Yasudah, saya, Hendi dan Agung si Mio meluncur kembali melanjutkan perjalanan.

Ngobrol-ngobrol lagi sama rombongan saya, ternyata mereka juga menuju ke Bromo. Hah! Kebetulan banget. Belum diputuskan mau konvoi bareng sampai sana atau mau sendiri sendiri tapi kami sempat jalan bareng agak jauh sebelum terpisah di sebuah kemacetan.

Mendekati Negara turun hujan. Jas hujan langsung dipasang dan saya lanjut jalan tanpa kendala. Sudah kebiasaan kalau memang cuaca berpotensi hujan maka sebelum betulan deras saya sudah pasang mantol. Nggak dilepas juga nggak papa, toh bisa buat tambahan pelindung angin.

Tak disangka saya melihat Hendi di depan pelan-pelan di antara rintik hujan. Saya tawarin mantol cadangan dan kami meluncur bareng sampai Gilimanuk alhamdulillah tanpa kendala.

Pelabuhan ramainya minta ampun. Antrian motor penuh berjejal seperti pada ketakutan kapal bakal berhenti beroperasi sebelum mereka sempat menyeberang. Tenda pembatas antrian motor sudah nggak cukup menampung, kami sampai berada di luar garis untuk ikut mengantre mengikuti instruksi dari Ni Kadek, petugas cantik penjaga loket motor. Aaawwww…

Jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam Waktu Indonesia Barat ketika kapal akhirnya bersandar di Pelabuhan Ketapang. Ada konvoi beberapa vespa yang ikut keluar bersama dengan saya. Dan lagi-lagi ketemu Hendi dkk yang juga sekapal menyeberangnya.

Aku pamit untuk menuju stasiun nunggui di sana sambil istirahat. Masih setengah jam-an lagi sampai keretanya datang. Dan kupersilakan Hendi buat duluan. Tinggal kontek-kontek saja buat ketemu di TKP sana.

Antrian motor di Pelabuhan Gilimanuk

Antrian motor di Pelabuhan Gilimanuk

Tiket penyeberangan kendaraan R2

Tiket penyeberangan kendaraan R2

Sampai antri di luar tenda

Sampai antri di luar tenda

Kapal penyeberangan Gilimanuk Ketapang

Kapal penyeberangan Gilimanuk Ketapang

Kapal penyeberangan Gilimanuk Ketapang

Kapal penyeberangan Gilimanuk Ketapang

Kipasnya cocok jadi kipas angin kamar wkwkwk

Kipasnya cocok jadi kipas angin kamar wkwkwk

Malam di kapal

Malam di kapal

Bersandar di Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur, bukan di bahumu #eh

Bersandar di Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur, bukan di bahumu #eh

Nunggu di Stasiun Banyuwangi Baru

Nunggu di Stasiun Banyuwangi Baru

 

NULIS LANJUTANNYA TAR DISAMBUNG LAIN WAKTU YAK. MAU NGULI DULUK :V

……..

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *