Mencari Avatar (yang nggak hilang)


Mas bro, this is a little late tapi better late than nothing at all kan? Cerita panjangnya lain waktu yo. Ini foto-foto dan caption-nya. Intinya sih pagi itu kami sekampung lagi siap-siap mau ‘berburu’ ulat sagu di hutan sagu (ya iyalah, mosok di hutan bambu) dalam rangka menyambut hari besar.

Bisa upload sampe 15 gambar ukuran masing2 sktr 800kb dari tengah hutan tu sesuatu banget loh. Gambar ngga resolusi tinggi karena keterbatasan banyak hal, tapi silakan dinikmati apa adanya!

Alt Text Keberangkatan

Kuhitung-hitung ada sekitar 50an orang semuanya. Ini dari tempat dudukku melihat ke belakang. Yg pandangan ke depan nggak keambil gambarnya. Buat tenaga pendorong, longboat ini pake 1 mesin 40PK Yamaha yg umum dipakai di sekitar sini.

 

Dari dermaga kami masih harus jalan sekitar 1 jam di tengah terik pagi. Eits jangan salah. Pagi di sini panasnya kayak panas jam 10 pagi di pinggir pantai. Buat anak-anak sih ngga ada yang ngga nyenengin.

 

Menggali alias ndukir adalah langkah kedua setelah pertama kali mengelupas kulit luar pohon sagu yg kerasnya minta ampun. Lihat ya, dia pakai kapak, bukan parang. Panci di sebelah bawah itu dipakai untuk menampung buke-a alias kumbang (metamorfosis ulat sagu di tahap setelah ulat).

 

Kalau satu pohon sudah selesai digali-gali, beralihlah mereka ke pohon lain. Belum tentu tengah batang loh yg ada ulatnya. Di sini mereka mencari di bawah dan di dalam pelepah-pelepah sagu yang sudah hampir membusuk.

 

Kerja sama tim yg bagus, kan? Jika parang dan kayu dirasa terlalu merusak ulat sagu (ga sengaja memotong jadi kecil2) maka dipakai jari-jari tangan buat ‘menggali’ di antara serabut sagu.

 

Kalau yang tadi dia pakai kapak alias besi, di sini mereka kerja berdua tapi yg satu cuma pakai kayu diruncingkan. Ujung kayu dipangkas pipih kayak obeng minus, lalu dipakai untuk membuka paksa kulit batang pohon sagu.

 

Ini ‘pasukan’ dengan ‘perlengkapan tempur lengkap’. Parang, kapak, kayu dan ember. Pake sepatu boot la ya supaya ngga kecocok duri sagu yg tajamnya setajam mulut ibu tiri jahat. Hahaha.

 

Anak kecil dan orang tuanya merupakan tim yg biasa dijumpai di lahan-lahan tempat orang tokok sagu. Anak-anak sudah terlatih sekali mencari dan menggali sumber protein tinggi tersebut. Dan lihat, anaknya ga pake sepatu boot!

 

Padahal perlengkapan standar kalau mau masuk hutan sagu salah satunya ya sepatu karet begini. Standar buat newbie sih. Penduduk lokal bisa dengan tenang nyeker di antara semak-semak duri itu dan sangat terampil milih jalan yg nggak menyiksa kaki.

 

Ini adalah avatar alias ulat sagu. Avatar the legend of ulat sagu. Hahaha. Mau yg lebih keren? Dalam bahasa lokal, avatar disebut juga auto. Yeah. Auto.

 

Di ember seperti ini ulat biasa dikumpulkan. Kalau yg saya pegang itu dalamnya juga berisi ulat sagu, cuma dia terbungkus semacam kepompong terbuat dari ‘serat’ batang pohon sagu yg masing-masing seratnya seukuran biting alias lidi kelapa. Nggak terlalu ‘serat’ juga sih tapi nyatanya bisa dibentuk jadi kepompong gitu.

 

Ini tampilan kepompong ulat sagu. Tengahnya bolong, kayak kepompong pada umumnya. Seratnya besar-besar kan?

 

Bekal seperti sagu bakar begini sangat umum ditemui dalam kelompok penokok. Biasanya sagu bakar dicelup di teh atau kopi supaya agak empuk, baru digigit dan dikunyah. Kalau nggak dicelup dulu, di tenggorokan agak seret. Bisa-bisa ngancing.

 

Masih lapar? Bakar saja avatar. Supaya nggak kebakaran hutan, api dinyalakan di atas potongan pelepah yg lebar. Kayu-kayu kering dinyalakan dengan bantuan dedaunan yg juga sudah mengering. Ulat lalu ditusuk dengan lidi sagu lalu dipanggang di atas perapian. Nyam!

 

Ini Rico yg belum bisa ngomong R. Jadi, dia adalah Liko. Yg sebelahnya itu orang hutan… Kami duduk di kayu yg seberapa besar menurutmu itu? Estimasi saya, sekitar dua pelukan orang dewasa. Emejing.

 

Yak! Itu saja postingan hari ini, bro. Lain waktu sambung lagi, insya Allah.

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *