We’re Gonna Need A Bigger Boat


Great white shark human interaction. Photo by @juansharks not me.

 

Feed Instagram saya menampilkan sesuatu yang luar biasa sore itu. Sekelompok freediver berenang dekat dengan seekor great white shark di habitat liarnya, di laut lepas. Terlihat di salah satu foto perbandingan antara besarnya manusia dengan si ikan yang lebarnya saja terlihat setinggi manusia. Itu baru lebarnya. Kebayang panjangnya kayak gimana, kan?

Kalau tentang feed instagram, banyak yang memukau (orang mancing pakai kayak dapat kerapu puluhan kilo, skydiving lalu ‘mendarat’ di pesawat yang lagi terbang, kreatifnya orang di luaran sana, viralnya makan daging anjing dengan sayur kol, dsb) tapi renang bareng great white shark pasti jarang ada. Coba aja search. Paling-paling nemunya orang scuba diving sambil ngelus-elus tiger shark (itu pun pakai baju besi) atau liat hiu black tip lagi tiduran di bawah karang. Jarang ada yang menampilkan interaksi manusia dengan predator tertinggi lautan itu dalam hubungan yang netral.

Malahan yang ada, kalau video hiu di habitat aslinya, yang biasa muncul adalah hiu yang ‘minta jatah’ hasil tembakan para spearo (biasanya saat ikan ditarik naik dari kedalaman). Ada yang berupa foto ada juga video menunjukkan ikan tangkapan yang tinggal separo. Separonya lagi diambil si tukang pajak. Ada juga video seekor hiu yang muncul di belakang kapal/yatch sedengan, pelan-pelan, lalu pelan-pelan gigit bagian belakang kapal. Ada lagi yaitu ketika seorang spearo lagi mau naik ke permukaan, dalam kondisi air kurang jernih, muncul seekor great white dari atas membelakangi diver sampai-sampai si penyelam kepalanya kesundul si hiu. Untunglah tidak terjadi insiden tak lanjutan (atau ada tapi tidak terekam video? Wallahu a’lam), tapi opini secara umum tentang great white shark ini adalah hiu sebagai pemangsa yang agresif dan terlihat sangat berbahaya.

Saya sendiri bukan ahli di bidang perilaku hiu (shark behavior) makanya tiap kali berjumpa hiu ada rasa deg-degan juga. Apalagi awal-awal ketika kesempatan untuk berinteraksi itu ada itu lihat black tip saja rasanya udah campur aduk. Bakal diapain nih sama si hiu kalo dia merasa terganggu sama gelembung-gelembung regulator yg saya pakai? Bakal ngejar saya nggak ya kalo di bagian laut ini ada hiunya? Will I encounter one this time? Saya kudu gimana nih kalo ketemu hiu?

Selalu saja begitu. Selalu saja waswas. Karena kami ketemunya sama-sama di laut. Saya sebagai pengunjung dan dia sebagai tuan rumah. Saya pengunjung yang bisa disebut intrusif (belum bikin janji ketemu, tau-tau nyelonong di daerah kekuasaannya), dan dia predator dengan bermacam-macam predikat seram. Lain cerita dengan lihat hiu dari dermaga, perahu, darat atau di mana saya di habitat saya dan dia di habitat dia ya.

Tapi kemudian dari media sosial juga akhirnya saya melihat bahwa hiu tidak selalu begitu. Dari buku dan majalah saya membaca tentang perilaku si pemangsa, lalu dari sana pelan-pelan muncul persepsi lain tentang mahluk laut satu ini. Memang berbahaya. Lihat aja gigi tajamnya yang mengoyak separuh tubuh mangsa dalam sekali gigit itu, tapi kitalah yang harus beradaptasi dengan dia apa adanya. Bukankah kita, manusia, yang mendatangi lautan?

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *